Feslit 2026 di Manado Perkuat Budaya Literasi Sulut, Libatkan Penulis Lokal dan Pegiat Baca

Penulis: Yoga Permadi  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 13:30:01 WIB
Peserta mengikuti Bincang Buku "Jalur Rempah Nusantara" dalam rangkaian Feslit 2026 di Manado.

Festival Literasi Sulawesi Utara (Feslit) 2026 digelar di Manado sebagai wadah penguatan budaya literasi sekaligus ruang apresiasi bagi penulis lokal di provinsi itu. Ketua Umum Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU) Standius Bara Prima menyatakan kegiatan ini hasil kolaborasi pihaknya bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Utara. Rangkaian acara diawali Bincang Buku bertajuk "Jalur Rempah Nusantara" yang menghadirkan penulis lokal Ersyad Mamonto dan pegiat literasi Wien Muldian.

MANADO — PPLSU bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Utara menggelar acara puncak Feslit 2026 di Manado. Kolaborasi kedua pihak menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi dengan melibatkan penulis, pegiat literasi, dan masyarakat umum.

Standius Bara Prima menuturkan festival ini dirancang bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang bagi penulis daerah untuk dikenal lebih luas. Menurut dia, kegiatan tersebut juga mendorong tumbuh minat membaca dan menulis di kalangan warga Sulawesi Utara.

"Feslit 2026 sebagai wadah penguatan budaya literasi sekaligus ruang apresiasi bagi para penulis lokal di Sulawesi Utara," kata Standius.

Bincang Buku "Jalur Rempah Nusantara" Buka Rangkaian Acara

Rangkaian Feslit 2026 diawali dengan Bincang Buku bertajuk "Jalur Rempah Nusantara". Forum diskusi itu menghadirkan penulis lokal Sulawesi Utara Ersyad Mamonto, pendiri Baca Di Tebet sekaligus pegiat literasi Wien Muldian, dan moderator Syafril Parasana.

Sesi tersebut menjadi kesempatan memperkenalkan karya dan gagasan para penulis kepada masyarakat. Selain berdiskusi, peserta bisa langsung berinteraksi dengan penulis yang karyanya sudah diterbitkan dalam bentuk buku.

Sasaran Kampanye Literasi: Sekolah dan Perguruan Tinggi

Kehadiran generasi baru PPLSU disebut menjadi energi tambahan untuk memperluas kampanye literasi. Program ke depan diarahkan ke berbagai kalangan, termasuk sekolah dan perguruan tinggi, guna mendorong budaya membaca, menulis, dan menghasilkan karya.

Standius menegaskan setiap generasi PPLSU tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga bagian dari keluarga besar yang memiliki tanggung jawab menyuarakan pentingnya literasi di Sulawesi Utara.

Penulis Lokal Butuh Ruang yang Nyaman dan Terhormat

Sekretaris PPLSU Faradila Bachmid menyoroti pentingnya ruang bagi penulis daerah. Menurut dia, proses menulis membutuhkan waktu panjang sehingga karya yang dihasilkan perlu mendapat tempat untuk dikenal, dibaca, dan diapresiasi masyarakat.

"Ini juga adalah langkah kita untuk memfasilitasi penulis lokal Sulawesi Utara mendapatkan tempat yang nyaman dan terhormat di Festival Literasi Sulawesi Utara," katanya.

Faradila menyebut Sulawesi Utara memiliki banyak penulis yang telah menghasilkan karya dalam bentuk buku. Potensi itu dinilai menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem literasi di daerah.

Melanjutkan Tradisi Menghasilkan Buku

Melalui Feslit 2026, PPLSU dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Utara mendorong gerakan literasi agar semakin masif dan berkelanjutan. Kehadiran generasi baru Putra Putri Literasi diharapkan memperluas kampanye ke sekolah dan kampus.

Tradisi menghasilkan karya berupa buku juga ingin dilanjutkan sebagai kontribusi nyata bagi perkembangan literasi di Sulawesi Utara. Akses masyarakat terhadap karya penulis daerah menjadi salah satu indikator yang ingin diperkuat lewat festival ini.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top