Neraca perdagangan Sulawesi Utara mencatat surplus 699,87 juta dolar AS sepanjang Januari–Agustus 2026, naik 2,57 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 682,30 juta dolar AS. Kenaikan ditopang ekspor yang menembus 848,70 juta dolar AS, sementara impor melonjak 37,33 persen menjadi 148,83 juta dolar AS. Kepala BPS Sulut Watekhi menyebut surplus Agustus 2026 saja mencapai 96,50 juta dolar AS.
MANADO — Kinerja dagang luar negeri Sulawesi Utara bergerak positif sepanjang delapan bulan pertama 2026. Surplus 699,87 juta dolar AS itu lebih tinggi dari capaian Januari–Agustus 2025 yang hanya 682,30 juta dolar AS.
Angka tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Sulut Watekhi di Manado. Menurut dia, surplus bulanan Agustus 2026 saja mencapai 96,50 juta dolar AS, meningkat dari kondisi Agustus tahun sebelumnya yang tercatat 64,19 juta dolar AS.
Nilai ekspor Sulut Januari–Agustus 2026 mencapai 848,70 juta dolar AS atau naik 7,34 persen dibanding periode sama 2025 yang sebesar 790,68 juta dolar AS.
Sisi impor justru tumbuh lebih agresif. Nilai impor tercatat 148,83 juta dolar AS, naik 37,33 persen dari 108,38 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
"Pada periode Januari-Agustus 2026, neraca perdagangan Sulut sebesar 699,87 juta dolar AS naik sebesar 2,57 persen dari periode yang sama tahun lalu hanya 682,30 juta dolar AS," kata Watekhi.
Komoditas ekspor terbesar Sulut masih didominasi lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) senilai 613,76 juta dolar AS. Nilainya naik 9,37 persen dibanding periode sama 2025.
Dari sisi impor, bahan bakar mineral (HS 27) menjadi komoditas terbesar dengan nilai 85,33 juta dolar AS atau naik 5,61 persen.
Amerika Serikat mencatat lonjakan luar biasa sebagai tujuan ekspor Sulut. Nilainya mencapai 186,57 juta dolar AS, naik 308,80 persen dibanding periode sama 2025.
Sementara Malaysia menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai 60,05 juta dolar AS, naik 28,52 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan ekspor ke Amerika Serikat dan kenaikan impor bahan bakar mineral menjadi dua faktor yang paling memengaruhi arah neraca dagang Sulut pada delapan bulan pertama 2026.