MANADO — Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Sulawesi Utara Yorry Rommy Lesawengan dan perwakilan Dinas PUPR hadir mewakili eksekutif dalam rapat tersebut. Meity mempresentasikan kondisi rumahnya yang berhalaman sekitar satu meter empat puluh sentimeter, yang menurutnya telah diambil museum sejak puluhan tahun lalu.
Rumah Meity beralamat tak jauh dari Museum Daerah Sulut di Jalan W.R. Supratman No. 72, Lawangirung, Kecamatan Wenang, tepat di depan SMP Negeri 1 Manado. Ia menilai talud museum menempel langsung ke dinding belakang rumahnya.
Meity menyebut keberadaan talud itu sudah berlangsung sekitar 40 tahun. Ia mengaku berupaya mencari pinjaman bank untuk memperkuat tiang-tiang penyangga agar talud tidak roboh menimpa rumahnya.
"Mengingat talud ini sudah 40 tahun, saya mencoba meminjam uang di bank, Bapak-Ibu, untuk melakukan pengecoran 30/40 tiangnya, guna menopang talud yang ada agar tidak roboh di rumah saya," tutur Meity dalam rapat.
Ia juga mempertanyakan alasan museum membangun talud yang menempel di dinding rumahnya sejak dulu. Menurut Meity, bagian belakang rumahnya yang berbatasan dengan talud kini penuh pepohonan.
"Di belakang rumah saya ini, yang menjadi talud di museum, sudah penuh pepohonan. Pertanyaannya, kenapa sejak dahulu museum membuat talud menempel di dinding rumah saya?" ujarnya.
Ketua Komisi III DPRD Sulut Berty Kapojos menanyakan apakah talud tersebut berada di atas tanah milik Meity. Meity menjawab tegas bahwa talud museum berdiri di tanahnya.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Sulut Fransiskus Andi Silangen menegaskan pihaknya belum bisa menyimpulkan karena baru mendengar keterangan satu pihak. DPRD akan menanyakan status tanah ke bagian aset daerah.
"Kami akan bertanya ke aset terkait status tanah ini. Hari ini kita hanya mendengar keterangan dari ibu secara sepihak. Mungkin ada catatan kita di aset. Kami akan melakukan konfirmasi," ungkap Fransiskus.
Meity memastikan persoalan kepemilikan tanah sudah memiliki dasar dokumen. "Ya, semua ada di sertifikat tanah yang ada," jawabnya.
Yorry Rommy Lesawengan menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala lingkungan setempat. Menurutnya, pihak lingkungan siap dihadirkan jika dibutuhkan, baik dalam rapat lanjutan maupun saat peninjauan langsung.
Fransiskus menyetujui agar persoalan tidak hanya dibahas lewat keterangan dalam rapat. Ia meminta jajarannya turun ke lokasi untuk melihat kondisi talud dan rumah warga secara langsung.
"Baiknya kita langsung ke lokasi ya. Paling tidak hari Rabu ini kita turun ke lokasi," pungkasnya.
Museum Daerah Sulut sendiri pasca direvitalisasi semakin ramai dikunjungi berbagai kalangan, mulai dari lembaga, organisasi, komunitas, hingga pengunjung individu. Banyak pengunjung mengabadikan kunjungan dan membagikannya ke media sosial untuk memperkenalkan koleksi sejarah dan budaya daerah itu.