Berlinale 2027 Angkat Tema "Rage Against the Machine", Rayakan 100 Tahun Metropolis

Penulis: Wisnu Wardana  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 17:47:31 WIB
Berlinale 2027 mengusung tema "Rage Against the Machine" dalam program retrospektifnya.

SULAWESI UTARA — Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) menetapkan program retrospektif edisi 2027 bertema "Rage Against the Machine", berpusat pada visi sinematik tentang masa depan dan pemberontakan. Tema itu diambil dari peringatan 100 tahun film bisu Fritz Lang, Metropolis, yang tayang perdana di UFA-Palast am Zoo, Berlin, pada 10 Januari 2027. Kurator menyiapkan pendekatan baru yang menyoroti relevansi Metropolis bagi sinema dan budaya populer masa kini.

Program retrospektif Berlinale 2027 disusun bersama Deutsche Kinemathek, dengan Heleen Gerritsen kembali memimpin sebagai direktur artistik untuk tahun kedua. Menurut pengumuman resmi festival, tema besar tahun itu akan menelaah gagasan masa depan dan pemberontakan dari berbagai sudut pandang: urbanisme, kecerdasan buatan, feminisme, hingga kapitalisme.

Pilihan itu bukan sekadar perayaan ulang tahun sebuah film klasik. Festival ingin menunjukkan bahwa pertanyaan yang diajukan Metropolis seabad lalu masih hidup di layar-layar hari ini.

Daftar Film yang Sudah Dikonfirmasi

Sejumlah judul telah masuk daftar awal retrospektif. Deretan itu memperlihatkan rentang estetika yang lebar, dari blockbuster arus utama sampai film bawah tanah.

  • RoboCop (1987) karya Paul Verhoeven, salah satu blockbuster Amerika yang dipilih
  • Decoder (1984) karya Muscha, film cyberpunk bawah tanah yang terinspirasi William S. Burroughs
  • Metoroporisu (2001) karya Rintar?, anime yang berstatus cult classic
  • The Last Days of Gomorrah (1974) karya Helma Sanders-Brahms, mewakili warisan sinema Jerman
  • Welcome II the Terrordome (1995) karya Ngozi Onwurah, film panjang Inggris pertama yang disutradarai perempuan kulit hitam, diputar dalam versi restorasi baru

Metropolis dan Jejaknya di Sinema Modern

Metropolis adalah thriller fiksi ilmiah bisu yang tayang perdana di Berlin pada 10 Januari 2027, lalu dirilis di Amerika Serikat pada Maret tahun yang sama. Film itu menjadi salah satu karya paling banyak dipelajari dari era bisu.

Kepala Berlinale Tricia Tuttle menyebut pendekatan kurator tahun ini berhasil menghidupkan kembali kebaruan film tersebut. Menurutnya, tim retrospektif membaca kecermatan Metropolis dalam meramalkan masa depan lewat sudut pandang yang terasa mendesak dan kontemporer.

"Is there anything new to say about Lang's Metropolis, 100 years old and one of the most studied films of the silent era?" kata Tricia Tuttle. "Well, yes. Heleen dan timnya mengambil pendekatan yang menyegarkan untuk menelaah kecermatan luar biasa Metropolis dan gaungnya yang terus berlanjut dalam sinema dan budaya modern, lewat lensa yang terasa mendesak dan kontemporer – punk, feminis, muda, provokatif, dan membangkitkan semangat."

Mengapa Angkatan Muda dan Minoritas Jadi Fokus

Gerritsen menegaskan, fokus retrospektif kali ini adalah para sutradara yang membangun dunia dan visi masa depan versi mereka sendiri. Spektrum estetikanya sengaja dibiarkan luas, dari film arus utama berbiaya besar sampai produksi bawah tanah.

The Last Days of Gomorrah, contohnya, digarap dengan latar pusat perbelanjaan dan tampilan bergaya punk. Bagi Gerritsen, genre fiksi ilmiah membuka ruang bagi kelompok minoritas untuk menyusun visi alternatif tentang masa depan yang kritis terhadap sistem yang ada.

"One hundred years after Metropolis, the focus is on directors who created their own worlds and visions of the future," ujar Heleen Gerritsen. "Saya sangat antusias dengan bagaimana genre ini memberi kesempatan bagi minoritas untuk mengembangkan visi masa depan alternatif yang kritis terhadap sistem yang ada."

Retrospektif menjadi salah satu program tetap Berlinale yang rutin menyorot warisan sinema. Penetapan tema tahun 2027 menempatkan Metropolis bukan sebagai artefak museum, melainkan pijakan untuk membaca ulang sinema fiksi ilmiah yang terus bergerak.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top