SULAWESI UTARA — Bumble resmi menyetujui kesepakatan akuisisi senilai USD 1,3 miliar atau setara Rp 23 triliun oleh Ithaca Holdings, membawa aplikasi kencan itu kembali menjadi perusahaan tertutup. Langkah ini ditempuh setelah pendapatan kuartal kedua 2026 turun 15,2 persen menjadi USD 211 juta dan pengguna berbayarnya merosot 16,4 persen ke sekitar 3,2 juta. Keputusan go private dinilai memberi Bumble ruang lebih luas bereksperimen dengan fitur baru tanpa tekanan pasar publik.
Ithaca Holdings membeli Bumble lewat transaksi yang direkomendasikan komite independen dewan direksi perseroan. Komite tersebut meninjau sejumlah opsi strategis sebelum menyimpulkan penjualan sebagai jalan terbaik bagi perusahaan yang tengah menekan biaya dan membenahi produknya.
Bumble berdiri pada 2014 berkat pendekatan yang membedakannya dari aplikasi kencan lain: hanya perempuan yang boleh memulai percakapan lebih dulu. Aturan itu membuatnya cepat dikenal di pasar kencan online global.
Perusahaan melantai di bursa saham pada 2021 dengan valuasi sekitar USD 14 miliar atau setara Rp 250 triliun. Kini nilai akuisisinya hanya USD 1,3 miliar, sekitar seperlima dari valuasi saat IPO.
Penurunan itu sejalan dengan melemahnya kinerja keuangan. Pendapatan kuartal kedua 2026 tercatat USD 211 juta, turun 15,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sementara basis pengguna berbayar anjlok 16,4 persen menjadi sekitar 3,2 juta.
Perubahan selera pengguna turut menggerus bisnis Bumble. Model kencan berbasis swipe yang lama jadi andalan kini menghadapi ketidakpuasan, terutama dari pengguna muda yang lebih memilih interaksi di dunia nyata.
Bumble menjajaki fitur berbasis kecerdasan buatan dan mengalihkan fokus untuk membantu pengguna bertemu langsung. Pada Juli lalu, perusahaan mengumumkan fitur Plans yang menyatukan orang lewat aktivitas offline.
Pendiri sekaligus CEO Bumble, Whitney Wolfe Herd, juga mengungkap perusahaan sedang mengembangkan cara baru bagi pengguna untuk berinteraksi. Metode baru itu berpotensi menggantikan model swipe yang selama ini identik dengan aplikasi kencan.
Status perusahaan tertutup memberi Bumble keleluasaan merombak produk tanpa harus mempertanggungjawabkannya ke investor pasar publik setiap kuartal. Fleksibilitas ini dinilai penting ketika perusahaan perlu bereksperimen cepat.
Wolfe Herd menyatakan Ithaca sebagai mitra yang sejalan dengan visi perusahaan. "Di Ithaca, kami menemukan mitra yang sejalan dengan visi kami, percaya pada misi kami yang mengutamakan perempuan, dan berkomitmen untuk berinvestasi demi masa depan Bumble," ujarnya.
Masalah Bumble bukan kasus tunggal. Match Group, induk Tinder, OkCupid, dan Hinge, juga mengalami penurunan harga saham tajam dari puncaknya pada 2021.
Sektor kencan online secara umum kesulitan meyakinkan pengguna membayar layanan premium. Ketika pertumbuhan pengguna berbayar melambat, pendapatan iklan dan langganan ikut tertekan.
Bagi pengguna Indonesia, transaksi ini belum mengubah layanan Bumble yang berjalan saat ini. Namun arah perusahaan setelah go private akan menentukan apakah fitur berbasis AI dan aktivitas offline yang tengah diuji benar-benar menggantikan model swipe yang sudah dipakai lebih dari satu dekade.