SULAWESI UTARA — Muhammad Lutfi menuding Singapura memanfaatkan MSCI untuk menekan pasar modal Indonesia agar klasifikasi turun dari emerging ke standalone market. Mantan Mendag dua era pemerintahan itu menilai tekanan bertujuan membuat harga saham anjlok supaya investor asing bisa memborong kembali dengan diskon.
Lutfi menyampaikan tuduhan melalui unggahan reels di akun Instagram resminya @m.lutfi, Senin (19/10). Ia menyebut institusi raksasa Singapura seperti Temasek dan GIC memiliki pengaruh besar di MSCI. Klaim itu tidak disertai bukti pendukung dan belum terverifikasi secara independen.
MSCI sendiri tengah mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Dalam pengumuman Jumat (16/10), MSCI menyebut perubahan menjadi frontier market tidak cukup mencerminkan tingkat keparahan persoalan di pasar saham Indonesia.
Lembaga penyedia indeks global itu menyoroti ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya bukti bahwa reformasi dan penegakan aturan menghasilkan perbaikan konsisten. MSCI tidak menyebut adanya tekanan Singapura sebagai dasar pertimbangan.
Lutfi mempertanyakan dasar penurunan status Indonesia menjadi standalone market. Menurutnya, kategori itu lekat dengan negara yang menerapkan pembatasan arus modal atau capital control, termasuk pembatasan transaksi valuta asing dan nilai tukar yang dikendalikan pemerintah. Indonesia tidak menerapkan kebijakan semacam itu.
Mantan Mendag pada era SBY (14 Februari–20 Oktober 2014) dan Jokowi (23 Desember 2020–15 Juni 2022) ini menduga tekanan berkaitan dengan kepentingan investor asing yang ingin kembali membeli saham lebih murah. Ia mengklaim dana institusi asing sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia.
Keluarnya dana tersebut, kata Lutfi, tidak membuat harga saham jatuh sesuai harapan investor asing. Kondisi itu dinilainya mendorong pihak-pihak yang ditudingnya menciptakan tekanan baru lewat MSCI. Penurunan klasifikasi pasar dapat memicu kepanikan investor hingga harga saham RI merosot.
"Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah," kata Lutfi.
Lutfi mengaku mendapat informasi bahwa seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh ikut menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. Ia tidak menyertakan bukti atas klaim tersebut. Keterlibatan Singapura, Temasek, GIC, maupun sosok yang disebutnya belum terverifikasi secara independen.
"Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya.
Ia mengakui persoalan yang melibatkan sejumlah emiten konglomerasi dalam negeri turut menjadi alasan menyoroti pasar modal Indonesia. Namun, ia menduga ada kepentingan lain di balik tekanan tersebut. Lutfi juga mengaitkan persoalan pasar saham dengan kritik Singapura terhadap Indonesia soal asap karhutla.
Wacana penurunan klasifikasi menjadi standalone market berpotensi mengubah bobot Indonesia di indeks global. Perubahan itu bisa memicu arus keluar dana pasif dari saham-saham Tanah Air jika benar diterapkan. Hingga kini, status Indonesia masih dalam tahap pertimbangan MSCI.
"Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market. Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," kata Lutfi.
Lutfi menegaskan pandangannya bukan untuk membela pemerintah, melainkan kepentingan negara. Ia mengajak pelaku pasar dan masyarakat menjaga kendali atas kekayaan Indonesia. "Jadi, buat bangsa Indonesia, jangan mau kita diadu-adu, dibuat minder oleh negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia," ujarnya.