MANADO — Ulyas Taha menilai peringatan Hari Santri Nasional 2026 bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Bagi aparatur sipil negara di lingkungan Kemenag Sulut, momen tersebut dimaknai sebagai pemicu perubahan sikap kerja: disiplin, berani membela kebenaran, dan bertanggung jawab penuh dalam melayani masyarakat.
Menurut Ulyas, pengabdian kepada publik hanya bermakna jika dibuktikan lewat karya dan kontribusi konkret. Ia menegaskan ASN tidak cukup berhenti pada pernyataan komitmen, tetapi harus menunjukkan hasil kerja yang dirasakan warga.
Ulyas menjelaskan semangat perjuangan ulama dan santri pernah menggerakkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Puncaknya terjadi pada peristiwa 10 November 1945, yang lahir dari gelora perjuangan rakyat setelah Resolusi Jihad.
Karena itu, ia memandang sikap disiplin, keberanian, dan cinta Tanah Air dari para ulama serta santri layak diteladani generasi sekarang. Nilai-nilai tersebut disebutnya sebagai bagian penting dari sejarah dan identitas kebangsaan yang semestinya dihargai seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya kalangan pesantren.
Ulyas juga menegaskan Hari Santri merupakan milik seluruh rakyat Indonesia. Alasannya, semangat perjuangan, persatuan, dan cinta Tanah Air yang diwariskan melalui Resolusi Jihad menyangkut kepentingan bersama seluruh anak bangsa, tidak terbatas pada satu kelompok.
Bagi ASN Kemenag Sulut, Ulyas berharap warisan santri dijadikan inspirasi untuk mengasah kompetensi, memelihara kejujuran, dan melayani seluruh masyarakat secara adil tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan.
Ia mengingatkan semangat santri pada masa kini tidak lagi diwujudkan melalui perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Wujudnya sekarang adalah peningkatan kualitas pelayanan, penguatan karakter, profesionalisme, serta komitmen membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan harmonis.
Pada 2026, Hari Santri Nasional diperingati dengan mengangkat gagasan "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Gagasan itu menekankan pentingnya kontribusi angkatan muda yang cakap pengetahuan, berbudi luhur, mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, dan peduli pada keutuhan negara.
Ulyas berharap melalui kesempatan tersebut api perjuangan kaum santri tetap menyala dalam segala wujud pengabdian kepada masyarakat. Sejarah perjuangan santri, menurutnya, tidak cukup dikenang lewat upacara seremonial, tetapi perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk mendorong kemajuan Indonesia.
Peringatan Hari Santri, tutupnya, sekaligus mengingatkan bahwa kecintaan pada Tanah Air, sikap menghargai kemajemukan, dan budaya saling membantu adalah kewajiban semua pihak.