Pertamina EP & Hulu Energi Garap Ketahanan Energi-Pangan di Zona 7 dan Zona 11

Penulis: Alfin Murtado  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:03:32 WIB
Pertamina EP dan Hulu Energi resmi luncurkan program ketahanan energi dan pangan di Zona 7 dan Zona 11.

SULAWESI UTARA — Kegiatan sinergi antara sektor hulu migas dan sektor pangan ini diresmikan dalam sebuah seremoni bersama di Jakarta, Kamis (28/5). Pertamina EP, sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, tidak hanya fokus mengejar target produksi minyak dan gas bumi. Perusahaan juga turun langsung mengelola lahan tidur dan memberdayakan petani di sekitar wilayah kerja Zona 7 dan Zona 11.

Dari Sumur Minyak ke Lahan Pertanian

Di Zona 7 yang mencakup wilayah Jawa Bagian Barat, Pertamina EP mengembangkan program pertanian terpadu dengan memanfaatkan area sekitar sumur minyak yang tidak produktif. Lahan-lahan ini diubah menjadi kebun jagung dan cabai yang dikelola oleh kelompok tani binaan. Program serupa juga berjalan di Zona 11 yang meliputi area Kalimantan, dengan fokus pada budidaya padi dan peternakan itik.

Direktur Utama Pertamina EP, dalam sambutannya yang dikutip dari rilis pers, menegaskan bahwa perusahaan tidak bisa lagi bekerja sendiri. "Ketahanan energi dan pangan adalah dua sisi mata uang yang sama. Jika masyarakat sekitar kesulitan pangan, operasi kami juga akan terganggu. Maka kami integrasikan program TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) dengan kebutuhan produksi," ujarnya.

Dampak Langsung ke Warga

Program ini telah menyentuh lebih dari 500 kepala keluarga di dua zona tersebut. Mereka mendapatkan akses bibit unggul, pupuk organik hasil olahan limbah industri, serta pelatihan teknik pertanian modern. Hasil panen sebagian dipasok ke koperasi karyawan Pertamina, sebagian lagi dijual ke pasar lokal dengan harga di atas standar karena kualitasnya terjamin.

Seorang petani binaan di Cirebon, misalnya, mengaku pendapatannya naik hingga 30 persen sejak lahan kritis di dekat sumur minyak diubah menjadi sawah tadah hujan. "Dulu lahan ini mati, sekarang bisa ditanami padi dua kali setahun. Air dari pengolahan limbah perusahaan juga kami pakai untuk irigasi," katanya.

Target Jangka Panjang

Ke depan, Pertamina EP menargetkan perluasan lahan produktif hingga 200 hektare di akhir tahun 2026. Perusahaan juga menggandeng Kementerian Pertanian untuk sertifikasi lahan dan Kementerian BUMN untuk akses permodalan bagi koperasi petani. Langkah ini diharapkan bisa menjadi model bagi BUMN lain dalam menjalankan program ketahanan pangan yang terukur.

Dengan pendekatan ini, Pertamina EP tidak hanya menjaga pasokan energi nasional dari sisi hulu, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan menekan angka kemiskinan di wilayah ring 1 perusahaan. Sebuah terobosan yang membuktikan bahwa industri migas dan pertanian bisa berjalan beriringan.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top