JAKARTA — Sentimen pasar berubah drastis setelah Iran menangguhkan perundingan melalui mediator dengan Amerika Serikat dan kembali melontarkan ancaman penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kenaikan harga energi dan memperkuat sentimen risk-off yang mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Pasar kripto juga menghadapi tekanan dari perpindahan lebih dari 10.000 BTC yang terkait dengan estate Mt. Gox. Arus keluar (outflow) ETF kripto di Amerika Serikat mencapai lebih dari 1,1 miliar dolar AS dalam sepekan terakhir.
Kombinasi faktor tersebut mendorong harga Bitcoin turun dari level psikologis 70.000 dolar AS dan sempat menyentuh area 60.000 dolar AS.
“Volatilitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pasar kripto semakin terhubung dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global. Meski tekanan jangka pendek masih tinggi, kami melihat koreksi yang terjadi merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar dan penting bagi investor untuk tetap berfokus pada fundamental serta manajemen risiko,” ujar Yudhono Rawis, Founder FLOQ.
Tim riset FLOQ mencatat bahwa sebagian pelaku pasar memandang penurunan harga Bitcoin ke area 66.000 dolar AS hingga 69.000 dolar AS sebagai leverage flush — proses pembersihan posisi berlebihan yang berpotensi menjadi fondasi bagi pemulihan harga berikutnya.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun lebih dari 4% pada awal Juni, didorong sentimen risk-off dan arus keluar modal asing. Otoritas memilih untuk tidak melakukan intervensi karena tingkat inflasi nasional masih berada pada level yang terkendali.
FLOQ juga menyoroti penegasan Pemerintah Provinsi Bali terkait larangan penggunaan aset kripto sebagai alat pembayaran. Kebijakan tersebut menegaskan bahwa di Indonesia, aset kripto tetap diposisikan sebagai komoditas investasi, bukan alat pembayaran yang sah.
Pada situasi pasar saat ini, FLOQ merekomendasikan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dan fokus pada aset dengan kapitalisasi pasar besar seperti Bitcoin bagi investor pemula. Sementara bagi trader aktif, disiplin dalam penggunaan stop-loss dan pengurangan leverage dinilai penting.
Untuk investor jangka panjang, momentum koreksi saat ini dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi aset dengan fundamental kuat. Namun, risiko inflasi energi global tetap perlu diwaspadai apabila ancaman penutupan Selat Hormuz benar-benar terealisasi.
Ke depan, FLOQ memperkirakan arah pasar kripto pada Juni 2026 akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, kondisi likuiditas global, serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter. Pendekatan investasi yang disiplin dan berorientasi jangka panjang dinilai menjadi kunci bagi investor dalam menghadapi fluktuasi pasar aset digital.