MANADO — Aktivitas seismik pasca gempa besar di Filipina masih terus berlangsung. Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado, Muhammad Zulkifli, mengungkapkan bahwa gempa susulan terbanyak terjadi pada hari pertama, yakni 123 kali hingga pukul 23:45 WIB pada 8 Juni 2026.
Memasuki hari kedua, Selasa (9/6/2026), jumlah getaran yang terekam menurun menjadi 82 kali. Hingga pukul 11:48 WIB pada Rabu (10/6/2026), tercatat tambahan 19 kali gempa susulan.
“Jumlah gempa susulan yang dirasakan sebanyak dua kali,” kata Muhammad Zulkifli di Manado, Kamis.
Dari total rangkaian gempa susulan tersebut, kekuatan tertinggi tercatat mencapai magnitudo 6,7. Sementara itu, getaran terkecil yang terekam oleh alat seismograf BMKG memiliki magnitudo 2,8.
Zulkifli menambahkan, sebanyak 23 gempa susulan memiliki magnitudo lebih dari atau sama dengan 5. Angka ini menunjukkan bahwa energi di zona subduksi masih cukup aktif meski pusat gempa utama berada di laut.
Gempa bumi tektonik berkekuatan M7,7 itu terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 06.37.42 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 5,80° LU; 125,14° BT, atau tepatnya di laut pada jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer.
Meski pusat gempa berada di wilayah Filipina, dampak getaran terasa signifikan di wilayah utara Sulawesi Utara. BMKG melaporkan gempa tersebut telah menyebabkan kerusakan pada bangunan rumah dan fasilitas umum di Kabupaten Kepulauan Sangihe serta Kabupaten Kepulauan Talaud.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG Stasiun Geofisika Manado terus memantau perkembangan aktivitas seismik di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.