6 Desa Wisata di Sulawesi Utara yang Bikin Liburan Lebih Bermakna, dari Bahoi hingga Darunu

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 12 September 2026 | 16:26:31 WIB
Wisatawan menyusuri jembatan kayu di kawasan hutan mangrove Desa Bahoi, Minahasa Utara.

SULAWESI UTARA — Desa wisata terbaik di Sulawesi Utara bukan cuma soal pantai yang memesona. Di balik garis pesisir, bukit, mangrove, dan laut jernih, ada desa-desa yang menawarkan pengalaman lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Desa wisata di Sulawesi Utara juga menunjukkan bagaimana pariwisata bisa berjalan berdampingan dengan konservasi, budaya, kuliner, dan ekonomi warga. Sulawesi Utara memang lekat dengan Bunaken, Manado, Tomohon, dan Likupang. Namun pengalaman yang lebih mendalam sering justru muncul ketika perjalanan bergeser dari destinasi utama menuju desa.

Di sana, wisatawan dapat tinggal di rumah warga, menyusuri mangrove, belajar tentang laut, menikmati kuliner rumahan, atau mengikuti aktivitas yang dikelola masyarakat.

Apa Dampak Desa Wisata bagi Warga Sulawesi Utara?

Sebuah desa wisata tidak cukup dinilai dari panorama. Ada beberapa indikator yang membuat perjalanan terasa lebih bernilai. Dalam konteks Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa Utara menjadi salah satu kawasan yang menarik untuk eksplorasi desa wisata.

Dokumen perencanaan pariwisata daerah mencatat banyak desa wisata dengan tingkat perkembangan berbeda, sementara beberapa desa seperti Marinsow, Pulisan, dan Bahoi berkembang sebagai bagian dari ekosistem pariwisata Likupang.

Ada empat hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Atraksi: apakah tersedia kegiatan yang benar-benar bisa dilakukan, bukan sekadar pemandangan?
  • Keterlibatan warga: apakah masyarakat menjadi pengelola, pemandu, penyedia homestay, atau pelaku UMKM?
  • Konservasi: apakah wisata turut menjaga mangrove, terumbu karang, hutan, atau budaya?
  • Fasilitas: apakah tersedia akses, tempat makan, toilet, homestay, atau pemandu?

Dengan pendekatan tersebut, pilihan desa wisata menjadi lebih terarah dan manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung oleh warga.

Desa Bahoi: Ekowisata Laut yang Berakar pada Warga

Bahoi memiliki karakter kuat sebagai desa pesisir yang menjadikan konservasi sebagai bagian dari pengalaman wisata. Desa Bahoi berada di Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Indonesia Travel mencatat desa ini dapat ditempuh sekitar satu setengah jam dari Bandara Sam Ratulangi dengan kendaraan.

Daya tariknya mencakup hutan mangrove, pasir putih, kawasan perlindungan laut, serta aktivitas snorkeling dan diving. Yang membuat Bahoi menarik bukan semata warna lautnya, karena pengelolaan kawasan perlindungan laut melibatkan masyarakat.

Indonesia Travel mencatat terdapat sekitar dua hektare Daerah Perlindungan Laut yang terumbu karangnya dijaga, bahkan pelanggaran terhadap aturan konservasi dapat dikenai sanksi berdasarkan peraturan desa.

Aktivitas yang paling menarik di Bahoi meliputi menyusuri hutan mangrove, berjalan di jembatan yang berada di kawasan bakau, snorkeling di kawasan perlindungan laut, diving dengan operator lokal, menikmati pesisir dan pasir putih, menginap di rumah warga, serta berinteraksi dengan masyarakat desa.

Konsep homestay menjadi bagian penting karena perjalanan tidak berhenti pada kunjungan singkat. Tinggal di rumah warga membuka kesempatan untuk memahami ritme kehidupan desa secara lebih dekat. Indonesia Travel juga menegaskan bahwa pengelolaan pariwisata Bahoi dilakukan masyarakat dengan pendampingan pemerintah dan lembaga terkait.

Desa Budo: Mangrove, Tanjung, dan Wisata Bahari

Budo cocok bagi perjalanan yang ingin menggabungkan alam pesisir dengan aktivitas yang relatif mudah dilakukan. Desa Wisata Budo berada di Kabupaten Minahasa Utara.

Salah satu atraksi yang tercatat dalam platform Jadesta adalah Tanjung Woka, sebuah kawasan dengan suasana tropis yang dikelilingi pepohonan dan tanaman woka. Atraksi ini menyediakan pondok, tempat makan, kamar mandi, dan area swafoto.

Harga yang tercantum di Jadesta mulai dari Rp10.000, meski tarif sebaiknya dikonfirmasi kembali sebelum keberangkatan. Budo juga mempunyai aktivitas snorkeling dan diving. Jadesta mencatat paket peralatan snorkeling, perahu, pemandu, serta aktivitas diving dengan struktur harga yang berbeda.

Informasi tersebut menunjukkan bahwa desa ini tidak hanya menjual panorama, tetapi telah membentuk produk wisata yang dapat dinikmati pengunjung. Rekomendasi pola kunjungannya: pagi tiba di Budo dan menjelajah kawasan mangrove, menjelang siang menikmati kuliner lokal, siang snorkeling jika kondisi laut memungkinkan, sore menuju Tanjung Woka, menjelang matahari terbenam menikmati suasana pesisir, lalu sore atau malam kembali ke Manado atau melanjutkan perjalanan.

Budo sangat menarik untuk perjalanan singkat karena aktivitasnya dapat disusun tanpa harus menghabiskan beberapa hari.

Desa Marinsow: Pintu Masuk ke Pesona Pantai Likupang

Marinsow memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan kawasan wisata utama Likupang. Bank Indonesia pernah mengidentifikasi Marinsow sebagai desa wisata kategori maju yang menjadi pendukung Destinasi Pariwisata Super Prioritas Likupang.

Lokasinya juga dinilai strategis karena berada pada jalur yang menghubungkan Manado dan Bitung serta dekat dengan kawasan KEK Likupang. Dalam basis data Jadesta, Marinsow saat ini tercatat sebagai desa wisata kategori maju. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, balai pertemuan, jungle tracking, kamar mandi, kios suvenir, kuliner, tempat makan, dan sejumlah homestay.

Pantai Paal menjadi salah satu daya tarik yang terkait erat dengan kawasan Marinsow. Data Sisparnas Kementerian Pariwisata mencatat Pantai Paal berada di Desa Marinsow dan memiliki fasilitas seperti pusat informasi, tempat ibadah, toilet, serta jalur evakuasi.

Marinsow menarik karena cocok sebagai basis menjelajah Likupang, pilihan homestay sudah tersedia, berdekatan dengan Pantai Paal, memiliki akses terhadap aktivitas wisata alam, bisa dikombinasikan dengan Pulisan, dan lebih cocok untuk perjalanan dua sampai tiga hari dibanding kunjungan terburu-buru. Jadesta juga mencatat beberapa homestay di Marinsow dengan fasilitas kamar mandi pribadi, sarapan, kipas atau AC, serta perlengkapan dasar.

Desa Pulisan: Pantai, Bukit, dan Lanskap Pesisir

Pulisan memberikan wajah berbeda dari desa wisata yang fokus pada mangrove. Pulisan berada di Likupang Timur dan tercatat sebagai salah satu desa wisata yang berkembang menjadi bagian dari kawasan pariwisata Likupang.

Dokumen perencanaan Minahasa Utara memasukkan Pulisan bersama Marinsow dan Bahoi sebagai desa wisata yang mempunyai peran dalam pengembangan kawasan. Kekuatan Pulisan berada pada kombinasi pantai, bukit, dan lanskap pesisir. Karena karakter alamnya, perjalanan ke Pulisan lebih menarik apabila tidak hanya berhenti di bibir pantai.

Cara menikmati Pulisan: mulai perjalanan pada pagi hari, sisihkan waktu untuk menikmati pantai, lanjutkan ke area bukit jika kondisi jalur memungkinkan, bawa air minum karena aktivitas di ruang terbuka dapat menguras tenaga, gunakan alas kaki dengan grip baik, jangan meninggalkan sampah di area pesisir, dan sediakan waktu menjelang sore untuk menikmati perubahan cahaya.

Pulisan sangat cocok bagi pencinta fotografi lanskap karena satu kawasan menawarkan perspektif laut dari dataran rendah sekaligus ketinggian.

Desa Lihunu: Pulau Bangka dengan Savana dan Laut

Lihunu menawarkan pengalaman desa wisata yang lebih bersifat kepulauan. Desa Wisata Lihunu berada di Pulau Bangka, Kecamatan Likupang Timur. Dalam platform Jadesta, Lihunu tercatat sebagai desa wisata 500 Besar ADWI 2024 dan kategori berkembang.

Atraksinya mencakup Savana Empung, Pantai Sembeka, dermaga, hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, serta kesenian tradisional Tari Cakalele. Menariknya, Lihunu juga mempunyai beberapa resort diving di sekitar desa.

Namun, Jadesta mencatat bahwa homestay dan produk paket wisata belum tersedia pada profil yang diperbarui, sehingga pengunjung sebaiknya melakukan konfirmasi langsung sebelum berangkat.

Aktivitas yang dapat diprioritaskan antara lain menikmati Savana Empung, berjalan di sekitar pantai, mengunjungi dermaga, mengamati mangrove, snorkeling atau diving melalui operator yang tersedia, mengenal kesenian tradisional, dan menikmati suasana Pulau Bangka tanpa agenda padat. Lihunu cocok bagi perjalanan yang mencari lanskap berbeda dari desa pesisir di daratan utama.

Desa Darunu: Mangrove dan Tradisi Tulude

Darunu memperlihatkan bahwa desa wisata Sulawesi Utara tidak selalu identik dengan pantai berpasir putih. Desa Wisata Darunu berada di Kecamatan Wori, Minahasa Utara. Jadesta mencatat Darunu sebagai desa wisata 500 Besar ADWI 2024 dengan kategori berkembang.

Atraksinya mencakup hutan mangrove, paddle board, scuba diving, free diving, Tari Masamper, dan Upacara Adat Tulude. Kombinasi tersebut membuat Darunu menarik bagi wisatawan yang ingin memasukkan unsur budaya dalam perjalanan alam.

Yang dapat dicari saat berkunjung: paket eksplorasi mangrove, aktivitas paddle board, free diving atau diving dengan operator yang sesuai, pertunjukan Masamper, informasi mengenai tradisi Tulude, dan homestay warga. Jadesta juga mencatat adanya homestay serta paket eksplorasi mangrove dan trip beberapa pulau.

Mana Desa Wisata yang Paling Sesuai?

Istilah terbaik sebetulnya sangat bergantung pada tipe perjalanan. Jika tujuan utamanya konservasi laut, Bahoi memiliki karakter paling kuat. Jika ingin kombinasi mangrove dan aktivitas bahari dengan perjalanan relatif ringkas, Budo layak diprioritaskan.

Marinsow cocok untuk basis perjalanan di Likupang, sementara Pulisan unggul pada lanskap pantai dan bukit. Lihunu lebih tepat untuk pencinta suasana kepulauan, sedangkan Darunu menarik bagi wisatawan yang ingin menyandingkan ekowisata dengan budaya Sangihe-Minahasa yang hidup di kawasan pesisir.

Pilihan berdasarkan kebutuhan:

  • Untuk snorkeling dan konservasi: Bahoi.
  • Untuk mangrove dan perjalanan singkat: Budo.
  • Untuk homestay dan akses Likupang: Marinsow.
  • Untuk pantai dan bukit: Pulisan.
  • Untuk suasana pulau: Lihunu.
  • Untuk alam sekaligus budaya: Darunu.

Contoh Itinerary Desa Wisata 3 Hari

Rute tiga hari dapat dibuat tanpa terlalu banyak berpindah tempat. Hari pertama: Budo. Berangkat dari Manado pada pagi hari, menjelajah mangrove, makan siang di kawasan desa, menikmati Tanjung Woka, lalu kembali ke Manado atau menginap sesuai pengaturan perjalanan.

Hari kedua: Marinsow dan Pulisan. Berangkat pagi menuju Likupang Timur, menikmati kawasan Marinsow, mengunjungi Pantai Paal, melanjutkan perjalanan ke Pulisan, menikmati bukit dan pantai, lalu menginap di homestay lokal.

Hari ketiga: Bahoi. Berangkat menuju Likupang Barat, menyusuri mangrove, snorkeling bila kondisi laut mendukung, menikmati makan siang, berinteraksi dengan warga atau membeli produk lokal, lalu kembali menuju Manado. Itinerary tersebut dapat diubah berdasarkan kondisi cuaca, transportasi, dan waktu penyeberangan.

Etika Saat Mengunjungi Desa Wisata

Desa wisata bukan taman hiburan. Ada masyarakat yang tinggal, bekerja, dan menjaga ruang tersebut setiap hari. Hal sederhana yang perlu dijaga: meminta izin sebelum memotret warga, membayar jasa pemandu sesuai ketentuan, tidak mengambil karang, kerang, atau biota laut, tidak menginjak terumbu karang, membawa kembali sampah, menghormati aturan desa, membeli produk lokal jika tersedia, tidak memasuki ruang privat warga tanpa izin, dan menghindari suara berlebihan di lingkungan permukiman.

Cara paling sederhana mendukung desa wisata adalah memastikan uang perjalanan tidak hanya berhenti di perusahaan besar, tetapi juga mengalir kepada pemandu, pengelola homestay, nelayan, pengrajin, dan penjual makanan lokal.

Desa Wisata Apa yang Paling Cocok untuk Wisata Bahari?

Bahoi, Budo, Marinsow, Pulisan, dan Lihunu sama-sama memiliki kekuatan bahari, tetapi karakter pengalamannya berbeda. Bahoi paling menonjol pada ekowisata dan konservasi laut, sedangkan Lihunu menawarkan suasana kepulauan dengan savana, pantai, mangrove, dan terumbu karang.

Apakah Bisa Menginap di Desa Wisata?

Bisa di sejumlah desa. Bahoi menyediakan pilihan menginap di rumah warga, sedangkan Marinsow memiliki beberapa homestay yang tercatat dalam Jadesta.

Kapan Waktu Terbaik Berkunjung ke Desa Wisata Sulawesi Utara?

Untuk aktivitas laut, kondisi cuaca dan gelombang harus menjadi pertimbangan utama. Musim kemarau sering lebih nyaman untuk aktivitas pesisir, tetapi kondisi lokal tetap perlu dikonfirmasi sebelum berangkat.

Apakah Semua Desa Wisata Memiliki Paket Wisata?

Tidak. Profil Jadesta menunjukkan bahwa beberapa desa sudah mempunyai atraksi dan fasilitas yang terstruktur, sementara desa lain masih mengembangkan produk wisata. Lihunu, misalnya, tercatat belum memiliki produk paket wisata pada profil yang tersedia.

Sulawesi Utara menyimpan cerita yang tidak selalu terlihat dari destinasi populer. Ada desa yang menjaga terumbu karang, desa yang hidup berdampingan dengan mangrove, dan desa yang menjadikan tradisi sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Karena itu, perjalanan menuju desa wisata terbaik di Sulawesi Utara pada akhirnya bukan hanya tentang mencari pemandangan indah, melainkan menemukan manusia, alam, dan cerita yang membuat perjalanan terasa lebih bernyawa.

Reporter: Redaksi
Back to top