MANADO — Dekranasda Sulawesi Utara menempatkan produk perajin dan UMKM binaannya di depan pelaku usaha Australia lewat pertemuan bisnis dua arah. Ajang B2B Business Matching di Melbourne itu mempertemukan perajin Sulut dengan calon pembeli dan mitra dagang di Negeri Kanguru.
Langkah Pemprov Sulut ini menyasar ekspansi pasar, bukan hanya promosi budaya. Produk yang dipamerkan dipilih yang sudah punya bentuk jadi dan siap dipesan dalam jumlah.
Sektor fesyen dan kriya menampilkan busana batik serta kain bermotif Taman Laut Bunaken, motif Minahasa, dan motif Sangihe Talaud. Motif-motif itu selama ini dikenal sebagai identitas visual daerah, kini dibawa sebagai bahan dagang.
Deretan produk lain yang ikut dipamerkan:
Semua produk kriya itu memakai bahan baku lokal yang diolah perajin Sulut. Tempurung kelapa, misalnya, naik kelas dari limbah dapur jadi kancing bernilai jual.
Dari sisi olahan pangan, Sulut membawa keripik pisang goroho renyah varian rasa sambal roa asap dan keju. Ada pula olahan keripik kelapa kaya rempah.
Pisang goroho sendiri merupakan komoditas khas yang tumbuh di tanah Minahasa. Sambal roa asap melengkapi cita rasa produk, memakai ikan roa yang jadi bahan sehari-hari warga pesisir Sulut.
Seluruh produk yang dihadirkan dirancang memenuhi standar kualitas pasar global. Kemasan dan mutu tetap dijaga tanpa melepas identitas kearifan lokal.
Pemprov Sulut berharap pertemuan bisnis ini memperluas jaringan pemasaran ekspor. Dampak yang dibidik bukan angka transaksi sesaat, melainkan keberlanjutan usaha perajin dan pelaku UMKM di daerah.
Bagi perajin, akses langsung ke pembeli luar negeri memangkas rantai perantara yang selama ini menekan margin. Bagi pemda, forum semacam ini menjadi uji pasar apakah produk lokal mampu bersaing di rak toko Australia.
Kehadiran Dekranasda di Melbourne menandai langkah awal. Hasil konkretnya akan terlihat dari apakah ada pesanan berulang dan kontrak dagang yang menyusul setelah pertemuan itu.