5 Alasan Surabaya Layak Jadi Tempat Menua yang Tenang

Penulis: Wisnu Wardana  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 10:19:01 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meluncurkan program Satu RW Satu Nakes pada 17 Juli 2024 untuk menempatkan tenaga kesehatan di 1.177 balai RW.

SULAWESI UTARA — Memilih kota untuk menghabiskan masa tua bukan soal menara ikonik atau kampanye besar-besaran. Surabaya membangun kota lewat saluran air, rumah pompa, dan tenaga kesehatan di balai RW. Hasilnya baru terasa saat usia menginjak 50, 60, dan 70 tahun.

Kota yang ramah untuk pensiunan biasanya tidak terlihat dari gedung pencakar langitnya. Yang menentukan justru seberapa dekat rumah sakit, seberapa murah transportasi, dan seberapa cepat air hujan surut dari halaman. Surabaya mengerjakan hal-hal kecil itu bertahun-tahun, dan berikut lima buktinya.

1. Kebersihan dipelihara sebagai kebiasaan, bukan proyek musiman

Kementerian Lingkungan Hidup menyerahkan Adipura Kencana kepada Surabaya delapan kali berturut-turut hingga 2023. Pada 22 Juli 2016, Wapres Jusuf Kalla menyerahkan Adipura Paripurna kepada Wali Kota Tri Rismaharini di Siak, Riau, saat Surabaya sudah tujuh kali beruntun meraih Adipura.

KLHK menyoroti keberanian Surabaya mengubah TPA Benowo menjadi pembangkit listrik, langkah yang kemudian ditiru banyak kota. Kompas mencatat pada 14 Januari 2019 bahwa Surabaya satu-satunya kabupaten/kota peraih Adipura Kencana periode 2017–2018.

Pada 2025 Surabaya memang tidak lagi menyandang predikat "Kota Bersih". Meski begitu, kota ini tetap peringkat pertama nasional dalam pengelolaan sampah dengan nilai 74,92, di atas Balikpapan dan Ciamis. Lingkungan bersih di sini hasil kerja berulang, bukan janji kampanye.

2. Uang pensiun bertahan lebih lama karena rumah jauh lebih murah

Data portal properti Rumah123 menunjukkan harga rumah di Surabaya sekitar 37% lebih murah ketimbang Jakarta, sementara biaya sewa sekitar 34% lebih rendah. Harga properti rata-rata di Surabaya berkisar Rp12 juta per meter persegi, sedangkan Jakarta mendekati Rp25 juta.

Di sisi lain, UMK Surabaya 2026 ditetapkan Gubernur Khofifah Indar Parawansa sebesar Rp5.288.796, naik dari Rp5.032.635 pada 2025. Pendapatan mendekati Jakarta, harga tempat tinggal jauh di bawah Jakarta.

Catatan pentingnya, survei Biaya Hidup BPS mencatat pengeluaran rata-rata satu rumah tangga menembus Rp13,36 juta per bulan. Bagi pasangan yang cicilan rumahnya sudah lunas, biaya hidup di Surabaya jadi sangat bersahabat.

3. Tenaga kesehatan menunggu di balai RW, bukan di kota seberang

Pada 17 Juli 2024, Wali Kota Eri Cahyadi meluncurkan program Satu RW Satu Nakes. Sedikitnya satu tenaga kesehatan ditempatkan di 1.177 balai RW, sehingga warga cukup berjalan kaki untuk konsultasi, skrining gula darah, dan cek kolesterol gratis.

Dua bulan sebelumnya, 14 Juni 2024, Pemkot meresmikan 153 Puskesmas Pembantu dengan skema Integrasi Layanan Primer. Pada 22 Juli 2024, program Satu Kelurahan Satu Ambulans menyusul untuk mengantar-jemput pasien tanpa biaya.

Jaringan rumah sakitnya tebal: pada 2024 Surabaya punya 43 rumah sakit umum, 15 rumah sakit khusus, 63 puskesmas, dan 312 klinik—jumlah klinik terbanyak di Jawa Timur. Sebanyak 226 fasilitas kesehatan bermitra dengan BPJS Kesehatan, dan Pemkot mengalokasikan sekitar Rp500 miliar per tahun agar warga miskin berobat gratis.

4. Infrastruktur yang menyentuh tubuh warga, bukan cuma wajah kota

Surabaya mengebor saluran air, menambah rumah pompa, dan menempatkan tenaga kesehatan di balai RW. Pekerjaan semacam ini tidak menghasilkan sorotan, tapi baru berbuah ketika hujan deras tak lagi menggenangi halaman.

Pola yang direkam Kompas, Detik, Tempo, dan Radar Surabaya selama satu dekade terakhir konsisten: kota ini membangun infrastruktur yang menyentuh kebutuhan harian. Bagi calon pensiunan, itu berarti lebih sedikit hari yang habis untuk mengurus hal-hal mendasar.

5. Warga benar-benar membelanjakan uangnya di kota ini

BPS mencatat konsumsi rumah tangga menyumbang 59,97% dari PDRB Surabaya pada 2025. Angka itu tanda warga tidak sekadar melintas untuk bekerja lalu pulang ke kota lain.

Ekonomi yang berputar di dalam kota membuat lingkungan tetap hidup: pasar ramai, warung jalan, layanan publik terpakai. Untuk masa tua, kota yang warganya tinggal dan membelanjakan uang di sana biasanya lebih terawat ketimbang kota yang hanya jadi tempat mencari nafkah.

Surabaya tidak menjual diri lewat ikon, tapi lewat pekerjaan yang terasa dampaknya puluhan tahun kemudian. Bagi yang sedang menghitung ulang arti sebuah kota, lima alasan di atas cukup jadi bahan pertimbangan serius.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: mojok.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top