Harga Minyak Brent Melonjak ke US$115,36 usai Kilang Arab Saudi Diserang Rudal

Penulis: Wisnu Wardana  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:47:31 WIB
Harga minyak mentah Brent naik ke US$115,36 per barel pada perdagangan Rabu (28/10).

SULAWESI UTARA — Harga minyak mentah Brent naik US$1,48 atau 1,3 persen menjadi US$115,36 per barel pada perdagangan Rabu (28/10), setelah serangan rudal terhadap kilang minyak terbesar Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan Timur Tengah. Kenaikan juga merambat ke acuan Amerika Serikat, dengan West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,22 atau 1,22 persen ke US$101,12 per barel.

Lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim menyerang fasilitas pengolahan berkapasitas 550 ribu barel per hari di Arab Saudi pada Selasa (27/10). Hingga berita ini diturunkan, otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung atas serangan tersebut, seperti dikutip Reuters.

Pasar merespons klaim serangan itu dengan cepat. Kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan energi di tengah konflik Iran dan kelompok-kelompok sekutunya kembali mencuat, setelah sebelumnya sempat mereda.

Berbalik dari Penurunan Hampir US$2 Sehari Sebelumnya

Kenaikan harga pada Rabu (28/10) membalikkan pelemahan yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Selasa (27/10), kedua acuan minyak turun hampir US$2 per barel seiring menguatnya harapan perundingan di Timur Tengah yang dapat meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan.

Dengan posisi terbaru, Brent kini berada di level US$115,36 per barel, sementara WTI bertengger di US$101,12 per barel. Selisih keduanya mencerminkan premi yang lebih besar pada minyak mentah Eropa, yang lebih sensitif terhadap risiko geopolitik Timur Tengah.

Persediaan AS dan Sinyal OPEC+ Jadi Penentu Arah Berikutnya

Selain konflik, pelaku pasar mencermati perkembangan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Persediaan minyak mentah AS diperkirakan naik sekitar 15 ribu barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober.

Dari sisi pasokan global, negara-negara anggota OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember dalam pertemuan 1 November mendatang. Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyatakan langkah itu sejalan dengan ekspektasi pasar.

Produksi sebagian besar dari tujuh anggota inti OPEC+ yang kini menjadi fokus, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, masih berada di bawah target produksi masing-masing. Kondisi ini membatasi ruang pasokan tambahan jika gangguan di lapangan terjadi.

Ekspor Rusia Berpotensi Turun pada November

Tekanan pasokan juga datang dari Rusia. Ekspor minyak mentah Rusia dari pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam berpotensi turun pada November, menurut para pedagang. Penurunan itu dapat terjadi karena kilang domestik meningkatkan produksi diesel setelah kesepakatan dengan Washington pada bulan ini.

Bagi investor Indonesia, kenaikan harga minyak Brent di atas US$115 per barel menjadi sinyal waspada. Harga minyak yang tinggi berpotensi menekan biaya impor energi, memberi tekanan pada neraca perdagangan migas, dan pada akhirnya memengaruhi asumsi APBN serta nilai tukar rupiah.

Saham-saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia, terutama emiten batu bara dan minyak gas, berpeluang menikmati sentimen positif jangka pendek. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada bahan bakar impor seperti maskapai penerbangan dan perusahaan logistik menghadapi risiko kenaikan biaya operasional.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top