MANADO — Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara Joko Supratikto menegaskan forum Dedicated Team Meeting (DTM) Sulut 2026 bukan sekadar agenda seremonial. Forum ini menjadi titik kritis untuk mempercepat investasi di tengah tekanan ekonomi global.
Pertumbuhan Investasi Sulut Tertinggal dari Nasional
Data terbaru menunjukkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Sulut baru mencapai 3,25 persen pada Triwulan I 2026. Capaian ini masih di bawah rata-rata nasional yang sebesar 4,10 persen.
Konsumsi pemerintah daerah juga tumbuh 3,86 persen, jauh dari laju nasional yang mencapai 7,89 persen. Kondisi ini yang mendorong BI untuk mengambil langkah lebih agresif.
Tiga Agenda Utama yang Disepakati
Dalam forum DTM yang digelar Sabtu lalu, BI menyepakati tiga agenda prioritas. Pertama, penguatan fiskal daerah agar belanja pemerintah lebih produktif. Kedua, sinergi pusat dan daerah dalam perencanaan proyek strategis. Ketiga, peningkatan kualitas investasi bukan sekadar kuantitas.
"Kita tidak hanya bicara kuantitas, tapi kualitas investasi yang memberi nilai tambah tinggi dan berdampak langsung bagi masyarakat," kata Joko dalam pernyataannya di Manado.
Investasi Harus Jadi Motor Ekonomi Daerah
Joko menekankan investasi tidak lagi sekadar angka statistik. Di tengah ketidakpastian global, investasi harus menjadi penggerak utama ekonomi Sulawesi Utara.
"Forum ini menegaskan pentingnya percepatan investasi sebagai kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tekanan global," ujarnya.
Optimisme Target Investasi Tercapai
Secara historis, pertumbuhan ekonomi Sulut memang tercatat lebih tinggi dari rata-rata nasional. Namun, perlambatan investasi di awal tahun ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan sektor swasta.
Joko optimistis target investasi bisa tercapai jika semua pihak bergerak bersama. "Kami optimistis target investasi bisa tercapai dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara," pungkasnya.