SULAWESI UTARA — China untuk pertama kalinya menunjukkan kemampuan meluncurkan pesawat tanpa landasan pacu menggunakan sistem ketapel elektromagnetik (EMALS) yang dipasang di atas tiga truk. Video demonstrasi yang sempat diunggah oleh Sekolah Teknik Mesin Beijing Institute of Technology (BIT) di media sosial pada akhir bulan lalu memperlihatkan tiga truk roda delapan saling mengunci seperti balok Lego membentuk landasan pacu darurat.
Bagaimana Sistem Ketapel Truk Ini Bekerja?
Dalam rekaman yang kemudian dihapus oleh pihak kampus tersebut, ketiga truk terlihat dalam posisi terpisah, kemudian merapat dan saling mengunci. Setelah tersambung, sistem kemudi semua roda (all-wheel steering) memungkinkan konfigurasi ini berputar di tempat, sehingga drone atau pesawat kecil bisa diluncurkan ke berbagai arah selama tersedia ruang yang cukup.
Sistem ini merupakan versi mini dari teknologi EMALS yang sudah dipasang di kapal induk terbaru China, Fujian. Kapal tersebut mengusung tiga unit ketapel elektromagnetik, lebih sedikit satu dari empat unit milik kapal induk AS, USS Gerald R. Ford. Namun untuk versi portabel darat, China justru menjadi yang pertama mendemonstrasikannya secara terbuka.
Mengapa Inovasi Ini Penting?
Salah satu tantangan terbesar operasi drone kelas menengah ke atas adalah kebutuhan landasan pacu. Dengan sistem portabel ini, drone bisa diterbangkan dari mana saja — mulai dari area terpencil, medan rusak, hingga lokasi yang tidak memiliki infrastruktur penerbangan sama sekali.
Lebih dari 70 organisasi, termasuk perusahaan-perusahaan milik negara China, terlibat dalam proyek ini. Meski videonya sudah dihapus, forum pertahanan dan analis China tetap membahasnya sebagai pencapaian teknologi besar yang membuka jalan bagi generasi baru pertempuran berbasis drone.
Posisi China dalam Perlombaan EMALS Global
AS adalah negara pertama di dunia yang mengoperasikan EMALS di kapal induk pada 2017. China menyusul dengan Fujian, dan kini India serta Prancis juga berkomitmen memasang teknologi serupa di kapal induk masa depan mereka. Namun untuk varian darat portabel, China untuk sementara unggul selangkah.
Sistem tiga truk ini secara prinsip bisa digunakan untuk meluncurkan drone pengintai, pesawat nirawak bersenjata ringan, atau bahkan pesawat kecil berawak dalam situasi darurat. Meski belum ada pengumuman resmi soal produksi massal, demonstrasi ini menegaskan bahwa China telah memecahkan masalah logistik besar dalam operasi drone lintas medan.