Pencarian

Harga Rica Tembus Rp 200 Ribu per Kg, Pengamat Unsrat Peringatkan Inflasi Sulut Berisiko 4,2 Persen

Sabtu, 26 September 2026 • 13:21:02 WIB
Harga Rica Tembus Rp 200 Ribu per Kg, Pengamat Unsrat Peringatkan Inflasi Sulut Berisiko 4,2 Persen
Harga cabai rawit di sejumlah pasar Manado tercatat Rp 180 ribu hingga Rp 200 ribu per kilogram pada awal September.

Guru Besar Universitas Sam Ratulangi Prof Dr Joy Tulung memperingatkan lonjakan harga cabai rawit atau rica hingga Rp 200 ribu per kilogram berpotensi mendorong inflasi Sulawesi Utara ke kisaran 4,2–4,5 persen secara tahunan. Peringatan itu disampaikan menyusul inflasi tahunan Kota Manado yang sudah menyentuh 4,21 persen pada Agustus 2026. Pemerintah daerah diminta mempercepat mendatangkan pasokan dari daerah surplus dalam hitungan hari.

MANADO — Lonjakan harga cabai rawit di Sulawesi Utara dinilai bukan lagi persoalan musiman biasa. Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Prof Dr Joy Tulung menyebut kenaikan harga hingga Rp 200 ribu per kilogram sebagai sinyal gangguan pasokan yang serius. Menurutnya, kondisi itu bisa menyeret inflasi Sulut ke angka 4,2 persen secara tahunan pada 2026.

Harga rica di sejumlah pasar Manado tercatat berada di rentang Rp 180 ribu hingga Rp 200 ribu per kilogram pada awal September. Kenaikan itu terjadi setelah harga mulai merangkak naik sejak akhir Agustus. Cabai rawit bersama kangkung menjadi pendorong utama inflasi Agustus di daerah ini.

Inflasi Agustus Sudah di Atas Rata-Rata Nasional

Data yang dihimpun menunjukkan Sulut mengalami inflasi 0,29 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi provinsi ini mencapai 3,99 persen. Khusus Kota Manado, inflasi tahunannya bahkan lebih tinggi, yakni 4,21 persen.

Joy menjelaskan kenaikan harga di satu atau dua pasar tidak otomatis mengerek inflasi sebesar persentase lonjakan cabai. Inflasi dihitung berdasarkan seluruh kelompok barang dan rata-rata harga selama periode pencacahan. Jika harga tinggi hanya bertahan beberapa hari lalu pasokan pulih, dampaknya masih bisa dibatasi.

"Lonjakan harga cabai rawit hingga Rp200 ribu per kilogram tidak dapat lagi dianggap sebagai fluktuasi musiman biasa, ini merupakan sinyal kuat terjadinya gangguan pasokan akibat kemarau panjang, turunnya produksi, dan berkurangnya pasokan dari daerah penghasil," kata Joy di Manado, Jumat.

Risiko jika Harga Tinggi Bertahan Tiga Pekan

Skenario memburuk bisa terjadi bila harga Rp 180 ribu hingga Rp 200 ribu bertahan dua sampai tiga minggu. Apalagi jika kenaikan terjadi di sebagian besar pasar. Dalam kondisi itu, cabai rawit berpotensi menyumbang beberapa persepuluh poin persentase terhadap inflasi.

Joy memperkirakan inflasi Sulut pada September berisiko berada di kisaran 0,3 hingga 0,6 persen secara bulanan. Inflasi tahunannya kemudian dapat bergerak ke rentang 4,2 sampai 4,5 persen. Namun ia menegaskan angka itu merupakan skenario risiko, bukan proyeksi resmi.

"Ini merupakan skenario risiko, bukan angka proyeksi resmi, karena masih bergantung pada pergerakan harga tomat, bawang, beras, ikan, dan angkutan udara," ujarnya.

Dampak Merembet ke Warung Makan dan UMKM Kuliner

Tekanan harga cabai tidak berhenti pada angka statistik. Rumah tangga akan merasakan langsung kenaikan pengeluaran harian. Biaya produksi rumah makan, katering, dan UMKM kuliner juga ikut naik.

Jika pelaku usaha menaikkan harga makanan, tekanan yang semula sementara bisa menyebar ke komoditas lain. Kondisi itu berpotensi bertahan lebih lama dan memperlebar dampak inflasi ke sektor lain di Sulut.

Langkah Pemprov Sulut mendatangkan pasokan dari luar daerah dinilai sudah tepat. Namun Joy menekankan realisasinya harus segera diwujudkan dalam volume yang memadai. Tanpa tambahan pasokan nyata, harga di pasar sulit turun.

TPID Diminta Hitung Kebutuhan dalam Satuan Ton

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) perlu menghitung kebutuhan dan kekurangan pasokan dalam satuan ton. Perhitungan itu menjadi dasar kerja sama dengan daerah surplus. Bantuan biaya angkut sementara juga dinilai perlu untuk mempercepat distribusi.

Pasar murah harus digelar secara terarah di pasar-pasar utama, bukan sekadar seremonial. Pemerintah juga diminta membuka data harga di tingkat petani, distributor, dan pedagang eceran. Data itu penting untuk mengetahui apakah kenaikan murni akibat kekurangan produksi atau diperbesar oleh rantai distribusi dan penahanan stok.

Joy mengingatkan pemerintah sebaiknya tidak menetapkan harga maksimum secara sepihak. Kebijakan itu berisiko membuat pedagang enggan memasok. Penindakan tetap diperlukan bila ditemukan penimbunan atau permainan harga, tetapi solusi utamanya tetap penambahan pasokan.

Solusi Jangka Menengah: Kalender Tanam hingga Cabai Beku

Dalam jangka menengah, pemerintah perlu membangun kalender tanam antardaerah. Perluasan irigasi dan penampungan air juga mendesak, terutama di wilayah yang rutin terdampak kemarau. Penggunaan varietas tahan kekeringan menjadi opsi lain yang bisa memperkuat produksi lokal.

Pengembangan penyimpanan dingin serta pengolahan cabai beku atau pasta disebut bisa mengurangi tekanan saat panen melimpah dan pasokan menipis. Menurut Joy, operasi pasar saja tidak akan menghasilkan tambahan cabai. Harga baru benar-benar terkendali ketika pasokan tiba di pasar dan harga mulai turun.

Kecepatan eksekusi dalam tujuh sampai empat belas hari ke depan akan sangat menentukan arah inflasi Sulawesi Utara pada September. Pemerintah daerah dan TPID kini memegang kunci apakah tekanan harga rica mereda atau justru merembet ke komoditas lain.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: manado.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks