Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo meningkatkan edukasi literasi keuangan bagi warga Sulut agar bijak mengelola dan menyisihkan penghasilan. Kepala OJK Sulutgo Robert Sianipar memaparkan panduan alokasi 40 persen biaya hidup, 30 persen cicilan, 20 persen tabungan dan investasi, serta 10 persen ibadah dan sosial. Edukasi berkelanjutan ini diharapkan memperkuat ketahanan keuangan masyarakat menghadapi kebutuhan mendatang.
MANADO — Kepala OJK Sulutgo Robert Sianipar menyampaikan panduan alokasi penghasilan dalam kegiatan edukasi keuangan di Manado. Ia menekankan perencanaan keuangan yang sehat dimulai dari pembagian yang tepat dan terukur, bukan sekadar menyisihkan sisa uang di akhir bulan.
Panduan yang disampaikan membagi penghasilan bulanan ke dalam empat pos. Sebanyak 40 persen dialokasikan untuk biaya hidup, 30 persen untuk cicilan atau utang, 20 persen untuk tabungan dan investasi, dan 10 persen untuk ibadah dan sosial.
Robert menyebut edukasi ini menyasar kebiasaan warga Sulut dalam mengatur pendapatan. Fokus utamanya adalah membangun pola pikir terencana dan kemampuan membedakan kebutuhan dari keinginan.
"Edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat Sulut, khususnya dalam membangun kebiasaan mengatur pendapatan secara terencana serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan," kata Robert.
OJK mendorong masyarakat menyusun skala prioritas penggunaan penghasilan. Sebagian pendapatan bisa dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, dana darurat, dan tujuan keuangan lain sesuai kondisi masing-masing.
Kebiasaan menyisihkan penghasilan secara rutin dinilai penting untuk menghadapi kebutuhan yang tidak terduga. Langkah ini juga menjadi fondasi perencanaan keuangan jangka menengah dan panjang.
Selain menabung, masyarakat diingatkan memahami produk dan layanan jasa keuangan sebelum menggunakannya. Pemahaman itu diperlukan agar keputusan yang diambil sesuai kemampuan dan kebutuhan, bukan sekadar ikut tren.
OJK mengimbau warga tidak mudah tergiur tawaran investasi atau produk keuangan yang menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat. Modus semacam ini kerap berujung kerugian bagi masyarakat yang kurang memahami risikonya.
"Setiap keputusan keuangan perlu dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan manfaat dan risikonya," ujar Robert.
Melalui edukasi keuangan yang berkelanjutan, OJK Sulutgo berharap masyarakat semakin mampu mengelola penghasilan secara sehat dan bertanggung jawab. Pengelolaan keuangan ditekankan sebaiknya dimulai dari kebiasaan sederhana, salah satunya menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin.
"Literasi keuangan yang baik diharapkan dapat mendukung ketahanan keuangan masyarakat," katanya.
Dengan perencanaan yang baik, masyarakat dinilai lebih siap memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mempersiapkan kebutuhan pada masa mendatang.