SULAWESI UTARA — Tujuh drama China bergenre xianxia, fantasi, dan kolosal masuk daftar rekomendasi bagi penggemar The Journey of Flower yang belum bisa move on. Serial garapan Hunan TV itu tayang pada 2015 dengan 58 episode berdurasi 45 menit, dibintangi Zhao Liying dan Wallace Huo sebagai Hua Qian Gu dan Bai Zi Hua. Benang merah judul-judul pengganti ini sama: heroine tangguh dan cinta yang harus dibayar mahal.
The Journey of Flower meninggalkan standar tersendiri bagi penonton drama Tiongkok. Chemistry Zhao Liying dan Wallace Huo sebagai murid dan guru disebut-sebut sulit ditandingi hingga sekarang, sementara latar wuxia dan fantasinya membuat cerita terasa megah.
Dari sekian banyak judul sejenis, redaksi merangkum tujuh drama yang paling sering disebut sebagai pengganti. Cakupannya mulai dari xianxia klasik sampai drama kolosal dengan konflik istana.
Ashes of Love kerap disebut sebagai penerus formula The Journey of Flower. Dewa-dewi, cinta terlarang, dan air mata jadi bahan bakarnya.
Kisahnya berpusat pada Jin Mi, putri mendiang Dewi Bunga yang tumbuh tanpa bisa merasakan cinta karena pil ajaib yang ditanam ibunya sejak lahir. Hidupnya berubah setelah bertemu Xu Feng, sang Dewa Api, lalu terseret intrik Kahyangan dan cinta segitiga dengan Run Yu, Dewa Malam yang menyimpan luka.
Seperti Hua Qian Gu, Jin Mi harus memilih antara cinta dan tanggung jawab besar yang menyangkut nasib tiga alam. Mitologinya rapi, emosinya dibangun perlahan dari manis menuju tragis.
Yang Zi memerankan Jin Mi, berpasangan dengan Deng Lun sebagai Xu Feng dan Luo Yunxi sebagai Run Yu. Deng Lun sebelumnya tampil sebagai Xiao Ce di Princess Agents, sementara Luo Yunxi belakangan bersinar lewat Till the End of the Moon. Wang Yifei, Chen Yuqi, dan Zou Tingwei melengkapi jajaran pemain pendukung.
Serial ini tayang 2 Agustus hingga 4 September 2018 di Jiangsu TV, iQiyi, Tencent Video, dan Youku. Sutradaranya Zhu Ruibin, orang yang sama di balik The Long Ballad, jadi sentuhan kolosalnya terasa akrab. Skornya menembus 8,5 dari puluhan ribu pengguna internasional.
Produksinya digarap Perfect World Pictures dan Omnijoi Media Corporation, diadaptasi dari novel Heavy Sweetness, Ash-like Frost karya Dian Xian. Versi TV berjumlah 63 episode, versi DVD 60 episode, masing-masing 45 menit.
Kalau bicara standar emas xianxia, Eternal Love selalu masuk hitungan. Drama ini menonjolkan cinta yang membentang tiga kehidupan.
Bai Qian, putri bungsu Raja Rubah berekor sembilan, dikirim ke Gunung Kunlun untuk berguru pada Mo Yuan sang Dewa Perang. Ratusan ribu tahun kemudian, takdirnya berkelindan dengan Ye Hua, Putra Mahkota Kahyangan.
Sama seperti Hua Qian Gu, Bai Qian adalah heroine kuat yang melewati pengkhianatan, kehilangan ingatan, dan pengorbanan besar. Hutan bunga persik yang ikonik menjadikan dunianya salah satu yang paling memukau secara visual.
Yang Mi memerankan Bai Qian, beradu akting dengan Mark Chao yang tampil dobel sebagai Ye Hua dan Mo Yuan. Ken Chang hadir sebagai Zhe Yan, sementara Dilraba Dilmurat dan Vengo Gao memerankan Bai Fengjiu dan Dong Hua.
Eternal Love tayang 30 Januari hingga 1 Maret 2017 di Dragon TV dan Zhejiang TV. Per Agustus 2018, serial ini disebut menembus 50 miliar penayangan dan menjadi salah satu yang paling banyak ditonton di dunia. Yang Mi kembali memimpin drama xianxia lewat Legend of Fuyao setahun kemudian.
Produksinya digarap Gcoo Entertainment dan Jay Walk Studio dengan Lin Yufen sebagai sutradara dan Hong Qiu sebagai penulis naskah. Ceritanya diadaptasi dari sebuah novel populer.
Ketiganya berbagi pola yang sama dengan The Journey of Flower: heroine yang tumbuh dari sosok rapuh menjadi pusat konflik besar, cinta yang berbenturan dengan takdir, serta dunia dewa-dewi yang punya aturan sendiri.
Durasi panjang bukan masalah bagi penonton setia genre ini. Justru dari situ emosi dibangun, pelan tapi meninggalkan bekas.
Bagi yang baru mulai, Ashes of Love dan Eternal Love adalah pintu masuk paling aman. Keduanya sudah punya basis penggemar internasional dan tersedia di platform streaming besar, sehingga mudah diakses dari Indonesia.
Tren xianxia sendiri belum surut di pasar drama Tiongkok. Setiap tahun selalu ada judul baru yang mencoba mengulang formula serupa, tapi hanya sedikit yang bertahan di ingatan selama The Journey of Flower.