SULAWESI UTARA — Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valuta asing setelah rupiah menembus level Rp18.038 per dolar AS, melemah 100 poin atau 0,56 persen dibanding penutupan sebelumnya. Langkah ini ditempuh untuk meredam tekanan sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari aset portofolio domestik.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan bank sentral akan hadir di pasar setiap waktu guna menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamentalnya. Intervensi dijalankan lewat empat jalur sekaligus, dari transaksi offshore hingga pembelian surat utang di pasar sekunder.
Erwin merinci intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Keempat jalur ini dipakai bersamaan agar tekanan di pasar valas tidak menumpuk di satu instrumen saja.
Selain intervensi, BI menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan normal.
Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date, rupiah tercatat melemah terbatas 0,28 persen. Posisi itu menunjukkan pelemahan tidak sepenuhnya disebabkan faktor domestik, melainkan imbas gelombang penghindaran risiko yang menekan hampir semua mata uang emerging market.
Cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Angka ini menjadi bantalan utama BI dalam melakukan intervensi harian tanpa mengorbankan kecukupan likuiditas valas nasional.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih tertekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Tekanan di pasar saham domestik turut membebani nilai tukar.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi di Timur Tengah yang kembali melonjakan harga minyak mentah dunia. Dari domestik, sell-off di pasar ekuitas juga masih terus membebani rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang itu memberi ruang penguatan terbatas jika intervensi BI dan pembelian SBN di pasar sekunder berhasil menahan arus keluar dana asing.
Bagi investor asing, kombinasi intervensi valas dan pembelian SBN di pasar sekunder berfungsi menahan lonjakan yield surat utang negara. Imbal hasil yang tidak melonjak tajam membuat obligasi Indonesia tetap kompetitif dibanding surat utang negara kawasan lain di tengah tekanan global.
Pelaku usaha yang punya kewajiban valas perlu mencermati rentang pergerakan rupiah yang diperkirakan analis. Dengan cadangan devisa US$146,3 miliar, kemampuan BI menstabilkan kurs masih memadai, meski arah rupiah dalam jangka pendek tetap bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan harga minyak mentah.