BMKG: Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, Warga Diminta Tetap Waspada

Penulis: Zainul Arifin  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:17:31 WIB
Citra satelit BMKG menunjukkan sebaran asap karhutla mulai bergerak menjauhi wilayah Jabodetabek pada Sabtu (17/10/2026).

SULAWESI UTARA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai bergerak menjauhi wilayah Jabodetabek sejak Sabtu, 17 Oktober 2026. Meski begitu, sisa asap masih terdeteksi di Pesisir Barat Banten pada ketinggian 10.000-18.000 kaki. BMKG meminta masyarakat tetap memantau kualitas udara di lingkungan masing-masing.

Pemantauan citra satelit pada Jumat (16/10) sempat menunjukkan asap karhutla memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Namun, kemunculannya tidak berlangsung lama dan tidak memengaruhi kualitas udara di permukaan.

Pada Sabtu (17/10) pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB, BMKG mengamati sebaran asap di wilayah tersebut bergerak menjauh secara bertahap. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa perubahan arah dan pelemahan pergerakan angin pada ketinggian tersebut ikut menggeser sebaran asap dari wilayah Jawa.

Asap di Satelit Tak Selalu Naikkan Polutan Permukaan

Guswanto menegaskan, keberadaan asap yang terdeteksi satelit tidak selalu berarti konsentrasi polutan di permukaan meningkat. Karena itu, masyarakat diminta tidak panik menghadapi informasi sebaran asap.

"Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing. BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif," kata Guswanto, dikutip dari keterangan resmi BMKG, Sabtu (17/10/2026).

Kualitas Udara Jakarta Masih Bervariasi

Pengukuran konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kemayoran, Jakarta, berada di kisaran 46,7-109,7 µg/m³ atau kategori sedang hingga tidak sehat. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup juga menunjukkan variasi serupa dengan PM2.5 sebagai parameter kritis.

ISPU di Marunda tercatat 49 (baik), Tanah Abang 60 (sedang), Kelapa Gading 103 (tidak sehat), Menteng 116 (tidak sehat), dan Kebun Jeruk 120 (tidak sehat). Angka-angka ini menjadi acuan warga Jabodetabek untuk menimbang aktivitas luar ruangan.

Titik Panas Masih Tersebar di Luar Jawa

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan sebaran asap karhutla masih terpantau di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua. Asap di wilayah-wilayah itu bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.

Pemantauan pada 16 Oktober 2026 pukul 00.00-23.59 WIB mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sumatra Selatan menjadi penyumbang terbanyak dengan 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik, Papua Selatan 63 titik, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing 26 titik.

"Meski demikian, jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah menurun signifikan dibandingkan pemantauan pada 15 Oktober 2026, dari 485 titik menjadi 26 titik. Perkembangan ini menunjukkan penurunan jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut, meskipun potensi karhutla tetap perlu diwaspadai," ujar Andri.

Cuaca Kering Berlanjut Sepekan ke Depan

Sejumlah wilayah, terutama Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan, masih mengalami kondisi relatif kering. BMKG memprakirakan kondisi itu berlanjut pada 17-24 Oktober 2026 seiring rendahnya potensi pertumbuhan awan hujan.

Peluang pertumbuhan awan hujan di atas 70% masih ada di Sumatra bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. BMKG juga mewaspadai potensi hujan lebat di sebagian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Papua Pegunungan.

"Sementara pola angin pada lapisan atmosfer 925-500 hPa secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5-34 knot. Pola tersebut memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia," ujarnya.

Imbauan untuk Warga di Wilayah Terdampak

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas, udara kering, dan potensi penurunan kualitas udara akibat asap karhutla. Warga perlu menjaga kecukupan cairan tubuh, memakai tabir surya saat beraktivitas di bawah sinar matahari, dan membatasi kegiatan luar ruangan bila kualitas udara memburuk.

"Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap, terutama anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan," kata Teuku Faisal.

BMKG turut mengajak pemerintah daerah dan instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan karhutla. Pengelolaan sumber daya air secara bijak disebut menjadi langkah penting selama periode kering berlangsung.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top