SULAWESI UTARA — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menyelimuti Singapura dan Kuala Lumpur, memperburuk kualitas udara di kedua kota menjelang sejumlah ajang olahraga besar. Kondisi ini mengancam balapan Formula 1 di Sirkuit Internasional Sepang yang digelar akhir pekan ini, berbarengan dengan Standard Chartered Marathon Kuala Lumpur.
Data IQAir menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur dalam lima besar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia saat ini. Kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang membawa partikel halus melintasi Selat Malaka dan Semenanjung Malaysia.
Prakiraan cuaca menunjukkan kondisi pemicu kabut asap masih akan bertahan selama sepekan ke depan. Kekeringan yang meluas dan angin dominan dari timur hingga tenggara menjadi faktor utama yang membuat asap terus terbawa ke wilayah tetangga.
Balapan F1 Kembali ke Sepang Setelah Sembilan Tahun
Malaysia dijadwalkan menggelar balapan Formula 1 pertamanya dalam sembilan tahun terakhir pada akhir pekan ini di Sirkuit Internasional Sepang. Ajang tersebut menjadi momen bersejarah bagi Malaysia setelah absen panjang dari kalender F1.
Balapan di Sepang berlangsung bersamaan dengan Standard Chartered Marathon di Kuala Lumpur. Dua event besar ini menghadapi risiko gangguan serius jika kualitas udara terus memburuk.
Penyelenggara Marathon Siapkan Rencana Darurat
Penyelenggara Standard Chartered Marathon Kuala Lumpur menyatakan tengah mempertimbangkan sejumlah rencana darurat jika kondisi udara semakin memburuk. Langkah antisipasi ini mencakup kemungkinan penundaan atau perubahan rute lomba.
Sementara itu, penyelenggara ajang F1 dan pihak Sirkuit Internasional Sepang belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait dampak kabut asap terhadap jalannya balapan.
Dampak Bagi Peserta dan Penonton
Kualitas udara yang buruk menjadi perhatian utama bagi pembalap, pelari maraton, dan ribuan penonton yang akan hadir di kedua event. Paparan partikel halus dalam konsentrasi tinggi berisiko bagi kesehatan pernapasan, terutama saat aktivitas fisik berat.
Pengamat cuaca memperingatkan bahwa arah angin dari timur hingga tenggara diperkirakan tidak berubah dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini membuat peluang perbaikan kualitas udara secara alami dalam waktu dekat relatif kecil.