SULAWESI UTARA — Manajemen BIPI melaporkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai USD25,9 juta sepanjang 2025. Angka ini berbalik dari tahun sebelumnya yang masih mencatat arus kas positif sekitar USD12,4 juta. Alhasil, saldo kas dan setara kas perusahaan menyusut drastis menjadi sekitar USD30,94 juta dari sebelumnya USD69,28 juta.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan akhir Mei 2026, BIPI juga mencatat saldo defisit sebesar USD192 juta. Manajemen mengakui kondisi ini dapat mempengaruhi kelangsungan usaha perseroan. "Grup telah mencatat arus kas operasi yang negatif... serta melaporkan saldo defisit," tulis perusahaan dalam keterbukaan informasi.
Tekanan tambahan datang dari dua anak usaha di sektor pertambangan, yakni JMB dan ABE. Hingga laporan keuangan diterbitkan, kedua entitas itu belum mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026. Padahal, dokumen tersebut menjadi syarat utama untuk melanjutkan kegiatan operasional tambang.
Menghadapi situasi ini, manajemen BIPI menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga keberlangsungan usaha. Strategi yang dijalankan meliputi pengelolaan likuiditas yang lebih ketat, efisiensi biaya operasional, serta upaya memperoleh persetujuan RKAB bagi kegiatan pertambangan.
Di pasar modal, saham BIPI ditutup di level Rp176 pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Meskipun dalam sepekan terakhir saham terkoreksi 4,35 persen, secara year to date (YTD) saham BIPI masih mencatat kenaikan lebih dari 104 persen. Data ini menunjukkan investor masih memberikan apresiasi terhadap langkah penurunan utang, namun tetap waspada terhadap risiko likuiditas dan kelanjutan operasional tambang.
Ke depan, kemampuan BIPI dalam membalikkan arus kas operasi menjadi positif dan mempercepat persetujuan RKAB akan menjadi faktor kunci yang menentukan kepercayaan pasar. Tanpa perbaikan di dua sisi tersebut, perbaikan struktur utang saja belum cukup untuk menjamin keberlangsungan bisnis perseroan.