Rupiah Terus Tertekan ke Rp17.844, Konflik Global dan Kebutuhan Valas Musiman Jadi Beban

Penulis: Wisnu Wardana  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:56:01 WIB
Rupiah melemah ke posisi Rp17.844 seiring tekanan konflik global dan kebutuhan valas musiman.

SULAWESI UTARA — Rupiah melemah 37 poin atau 0,21 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri; mata uang Asia seperti yen Jepang, yuan China, won Korea Selatan, dan baht Thailand juga kompak berada di zona merah pada pembukaan pagi ini. Di negara maju, euro, poundsterling, dan franc Swiss juga tak luput dari tekanan dolar AS.

Dua Sumber Tekanan: Perang dan Kebutuhan Dividen

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi pemicu: pertama, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih limbung; kedua, antisipasi pasar terhadap rilis data ekonomi domestik. "Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Dari sisi domestik, Bank Indonesia mencatat tekanan tambahan berasal dari faktor musiman. Kebutuhan dolar AS meningkat signifikan untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan, sementara arus masuk valas masih terbatas. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menegaskan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

BI Siaga Penuh, Intervensi Siap Dilakukan

Menghadapi situasi ini, BI menegaskan komitmennya untuk hadir di pasar secara nonstop. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan pada Jumat (29/5). Intervensi akan dilakukan melalui berbagai instrumen yang dimiliki otoritas moneter.

Di sisi lain, ada sedikit angin segar bagi rupiah. Harga minyak yang mulai menurun dapat meredam kebutuhan impor energi dan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan. Namun, sentimen ini masih kalah besar dibandingkan ketidakpastian geopolitik dan permintaan dolar yang tinggi. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis?

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan menjadi sinyal waspada bagi investor pasar keuangan. Risiko nilai tukar (forex risk) meningkat, terutama bagi emiten yang memiliki utang dalam dolar AS atau yang mengimpor bahan baku. Sementara itu, bagi pelaku bisnis yang berorientasi ekspor, pelemahan rupiah bisa menjadi keuntungan kompetitif jangka pendek. Pasar kini menunggu data inflasi dan neraca perdagangan yang akan dirilis besok untuk mengukur arah kebijakan BI selanjutnya.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top