Pasar Motor Bekas Listrik AS Pecah Rekor, Penjualan Baru Justru Merosot 20 Persen

Penulis: Yoga Permadi  •  Rabu, 01 Juli 2026 | 04:28:31 WIB
Pasar mobil listrik bekas AS mencatat rekor dengan 128.000 unit terjual pada kuartal kedua 2024.

SULAWESI UTARA — Data terbaru dari Cox Automotive menunjukkan pasar mobil listrik bekas di AS mengalami kebangkitan yang signifikan. Sebanyak 128.000 unit mobil listrik bekas berpindah tangan pada kuartal kedua tahun ini, sebuah rekor baru yang menunjukkan pergeseran preferensi konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi.

Harga Bekas Melonjak, Tiga Tahun Jadi Titik Manis

Harga rata-rata mobil listrik bekas kini berada di angka USD 37.000 atau sekitar Rp 592 juta. Angka ini naik USD 3.000 dari posisi sebelumnya yang hanya di bawah USD 35.000. Kenaikan ini menunjukkan permintaan yang kuat, meskipun harga masih lebih mahal dibandingkan mobil bensin bekas pada umumnya.

Mark Strand, Wakil Kepala Ekonom Cox Automotive, mengungkapkan bahwa mobil listrik berusia tiga tahun menjadi primadona. "Harga mobil listrik berusia tiga tahun kini 14 persen di atas nilai awal tahun. Sebagai perbandingan, mobil non-listrik pada usia yang sama hanya naik 3,5 persen," jelas Strand dalam laporan tengah tahun kelompok riset tersebut.

Gelombang Mobil Sewa Kembali ke Pasar

Mayoritas mobil listrik yang membanjiri pasar bekas berasal dari kendaraan sewa yang masa kontraknya berakhir. Para penyewa cenderung tidak membeli kendaraan tersebut jika harga pasarnya dinilai terlalu tinggi. Kondisi ini membuat lembaga pembiayaan harus menyesuaikan nilai sisa kendaraan secara bertahap.

Fenomena ini bisa ditelusuri kembali ke celah regulasi yang sempat membuat sewa mobil listrik di AS sangat murah, termasuk program sewa Fiat 500e dengan DP USD 0. Pakar industri Sam Abuelsamid memperkirakan gelombang mobil dari era sewa tersebut akan terus mengalir ke dealer selama dua tahun ke depan.

Baterai Bukan Biang Depresiasi, Asal Tidak Di-charge Cepat Setiap Hari

Meski mobil listrik bekas rentan terhadap depresiasi harga yang tajam, penyebabnya bukanlah degradasi baterai. Teknologi baterai modern dinilai sudah sangat matang dan mampu mempertahankan kapasitasnya dalam jangka panjang. Produsen dinilai berhasil menekan laju penurunan performa baterai seiring perkembangan teknologi.

Namun, para ahli mengingatkan agar pemilik tidak mengisi daya menggunakan pengisi daya cepat (DC fast charging) setiap hari. Kebiasaan ini justru mempercepat penurunan kesehatan baterai. Jika tidak bisa menghindarinya, pemilik disarankan untuk tetap menggunakan mobil hybrid atau bensin konvensional untuk sementara waktu.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: thedrive.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top