SULAWESI UTARA — Penguatan rupiah hanya 0,13% atau 23 poin, belum mampu membawa mata uang Garuda menjauh dari level psikologis Rp18.000. Pergerakan ini masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut ada dua sentimen utama yang menekan pergerakan rupiah. Pertama, dari eksternal, yaitu keputusan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap semua pelabuhan Iran.
Langkah Washington itu langsung memicu reaksi balik dari Teheran. Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut.
"Teheran mengatakan telah kembali menutup selat tersebut setelah permusuhan antara Iran dan AS kembali berkobar pekan lalu," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Kondisi ini memperburuk gencatan senjata rapuh yang baru saja dicapai pada Juni lalu setelah berbulan-bulan pertempuran.
Tentara Iran mengaku telah melancarkan serangan drone pada Rabu pagi ke posisi AS di pangkalan Azraq, Yordania. Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar resmi dari Pentagon.
Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menyatakan telah menargetkan senjata dan fasilitas penyimpanan di Bahrain dan Kuwait. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Kenaikan tensi dalam beberapa hari terakhir mengikis optimisme pasar terhadap nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu. Investor mulai meragukan apakah perjanjian itu akan berujung pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang paling membebani aset berisiko negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor asing cenderung menghindari risiko dan beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Sebelumnya, rupiah sempat ambruk hingga menembus level Rp18.109 per dolar AS akibat kombinasi sentimen mega korupsi domestik dan konflik AS-Iran. Penguatan tipis hari ini belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan dalam sepekan terakhir.
Pelaku pasar masih menanti perkembangan diplomasi kedua negara serta data ekonomi AS selanjutnya untuk menentukan arah pergerakan rupiah ke depan.