Warga Binaan Lapas Manado Buktikan Diri Lewat Produk Meubel dan Kerajinan Tangan Bernilai Ekonomi

Penulis: Alfin Murtado  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 11:13:01 WIB
Warga binaan Lapas Kelas IIA Manado menunjukkan hasil karya meubel dan kerajinan tangan dalam program pembinaan kemandirian.

MANADO — Jeruji besi tak membatasi kreativitas. Warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas IIA Manado, Sulawesi Utara, membuktikan hal itu lewat produk meubel, kerajinan tangan, dan barang kreatif lain yang memiliki nilai jual. Program pembinaan kemandirian ini dijalankan dengan pendampingan petugas dan instruktur terlatih.

"Semangat untuk terus berkarya tidak pernah padam, meski berada di balik jeruji," kata Kepala Lapas Kelas IIA Manado, Krisman Ziliwu, di Manado, Kamis.

Modal Hidup Setelah Bebas

Kalapas menekankan bahwa pembinaan ini jauh melampaui aktivitas pengisi waktu. Tujuan utamanya adalah membangun karakter, menumbuhkan rasa percaya diri, dan yang terpenting, membekali warga binaan dengan keterampilan teknis yang bisa menjadi modal usaha setelah kembali ke masyarakat.

"Pembinaan kemandirian bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani pidana, tetapi menjadi sarana membangun karakter, menumbuhkan rasa percaya diri, serta membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat menjadi modal untuk hidup mandiri setelah bebas," ujar Krisman.

Disiplin dan Etos Kerja Jadi Fondasi

Selain keterampilan teknis, program ini secara sengaja menanamkan nilai-nilai dasar. Disiplin, tanggung jawab, kerja sama tim, dan etos kerja menjadi fondasi yang dibangun selama proses produksi. Nilai-nilai ini diyakini akan menjaga mereka tetap pada jalur yang benar saat nanti berinteraksi lagi dengan lingkungan sosial.

"Produk-produk yang dihasilkan menjadi bukti bahwa warga binaan memiliki potensi untuk terus berkembang apabila diberikan kesempatan, pembinaan, dan pendampingan yang tepat," kata Krisman menambahkan.

Komitmen Pemasyarakatan yang Produktif dan Humanis

Program ini merupakan bagian dari komitmen Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk mewujudkan sistem pemasyarakatan yang produktif dan humanis. Fokusnya adalah reintegrasi sosial, bukan sekadar hukuman. Melalui pembinaan berkelanjutan, warga binaan diharapkan siap berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Krisman memastikan pihaknya akan terus berinovasi. Sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan akan diperkuat agar proses pembinaan tidak hanya bermanfaat selama di dalam lapas, tetapi benar-benar menjadi bekal nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik. "Kami akan terus berinovasi menghadirkan program-program pembinaan berkualitas melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan," sebutnya.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top