Iklan AI Terbaru Meta Gunakan Lagu David Bowie Bertema Kiamat, Salah Konteks atau Sengaja?

Penulis: Vikri Alfandi  •  Jumat, 24 Juli 2026 | 07:55:01 WIB
Meta menggunakan lagu "Five Years" David Bowie yang bertema kepunahan dalam iklan AI terbarunya.

SULAWESI UTARA — Meta baru saja meluncurkan kampanye iklan terbaru yang menyoroti optimisme perusahaan terhadap kecerdasan buatan. Dalam video berdurasi singkat itu, Meta menampilkan potret kebahagiaan manusia—pasangan menari di atap, remaja berenang di danau, hingga anak kecil bermain di ladang. Narasinya berbunyi: "Kami bertaruh pada manusia, dan kami suka dengan peluang itu. Masa depan adalah untuk semua orang."

Pilihan Lagu yang Kontroversial

Masalah muncul saat publik menyadari lagu yang digunakan adalah "Five Years" dari David Bowie. Lagu ini dirilis tahun 1972 dan menceritakan situasi ketika umat manusia mengetahui bahwa bumi akan hancur dalam lima tahun ke depan. Beberapa baris liriknya berbunyi: "Berita baru saja datang / Kita punya lima tahun tersisa untuk menangis / Bumi benar-benar sekarat."

Seorang analis blockchain yang diwawancarai langsung mengira lagu itu tentang perubahan iklim, kiamat zombie, atau asteroid. Ia benar—lagu ini jelas bertema kepunahan. Namun, bagian yang dipotong untuk iklan hanya menonjolkan pengulangan kata "people" yang terdengar ceria tanpa konteks aslinya.

Bukan Kali Pertama Tech Giant Salah Pilih Referensi

Kesalahan serupa bukan hal baru di industri teknologi. Meta sebelumnya membagikan novel fiksi ilmiah "Ready Player One" kepada karyawan baru—sebuah buku yang menggambarkan perusahaan teknologi jahat yang menguasai dunia virtual. CEO OpenAI Sam Altman juga mengutip film "Her" sebagai inspirasi, padahal film itu justru peringatan tentang bahaya AI sebagai pengganti hubungan manusia.

Palantir, perusahaan yang membangun sistem pengawasan AI untuk pemerintah, mengambil nama dari batu pengintai dalam "Lord of the Rings" yang digunakan oleh Dark Lord untuk memata-matai musuh. Elon Musk juga baru-baru ini mempermasalahkan akurasi film "The Odyssey" karya Christopher Nolan—sebuah kisah yang berisi monster laut dan dewa-dewi.

"Orang-orang ini adalah argumen kuat tentang pentingnya belajar humaniora," tulis analis teknologi dalam laporannya.

Persaingan Iklan AI yang Semakin Aneh

Meta tidak sendirian. Anthropic, pesaing utama Meta di bidang AI, baru-baru ini merilis iklan yang menampilkan rumah terbakar, pemindaian wajah oleh kamera pengawas, tunawisma di jalan, dan barisan nisan di pemakaman. Narasinya justru bertanya: "Bisakah AI dipercaya?" dan "Siapa yang akan mengerem jika diperlukan?"

Iklan Anthropic mencoba meyakinkan publik bahwa perusahaan paham risiko AI, sehingga layak dipercaya mengembangkan teknologi ini secara bertanggung jawab. Namun pesan yang sampai justru sebaliknya: mencekam dan kontradiktif.

Apa Artinya bagi Konsumen Indonesia?

Bagi pengguna teknologi di Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa klaim pemasaran perusahaan AI perlu disikapi kritis. Meta dan perusahaan lain terus mendorong adopsi AI dengan narasi optimistis, namun pilihan referensi budaya yang keliru menunjukkan celah dalam pemahaman mereka terhadap dampak sosial teknologi.

CEO Meta Mark Zuckerberg menulis di unggahannya: "Kami terus percaya masa depan adalah untuk semua orang. Kami fokus memberi setiap orang alat untuk mencapai potensi penuh mereka." Sayangnya, pesan itu justru diiringi lagu tentang akhir dunia.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top