Transaksi BI-FAST di Sulut Tembus Rp 43,76 Triliun, BI Catat Penggunaan QRIS dan E-Wallet Makin Tinggi

Penulis: Alfin Murtado  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:18:01 WIB
Transaksi BI-FAST di Sulawesi Utara pada triwulan I 2026 mencapai Rp 43,76 triliun, tumbuh 39,67 persen secara tahunan.

MANADO — Arus uang elektronik di Sulawesi Utara menunjukkan akselerasi signifikan pada triwulan I 2026. Data terbaru Bank Indonesia mencatat nominal transaksi uang elektronik mencapai Rp 748 miliar, tumbuh 24,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut melengkapi kinerja positif sistem pembayaran nontunai lainnya di provinsi berpenduduk sekitar 2,7 juta jiwa ini. Pertumbuhan tertinggi justru terjadi pada layanan BI-FAST yang mencatatkan total transaksi incoming dan outgoing hingga Rp 43,76 triliun.

Pertumbuhan BI-FAST Melampaui Kanal Lain

Lonjakan 39,67 persen pada transaksi BI-FAST menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat dan pelaku usaha di Sulut semakin mengandalkan transfer instan. Layanan ini memang dirancang untuk menggantikan sistem kliring konvensional dengan kecepatan eksekusi hitungan detik.

Sebagai perbandingan, kanal BI-RTGS yang biasa digunakan untuk transaksi bernilai besar juga tumbuh 6,38 persen menjadi Rp 5,94 triliun. Sementara itu, transaksi SKNBI yang mencakup kliring kredit dan debit hanya tumbuh tipis 1,34 persen.

Net Inflow Rp 513 Miliar: Tanda Ekonomi Sulut Sehat?

Di sisi pengelolaan uang tunai, Sulut mencatatkan net inflow atau uang masuk sebesar Rp 513,57 miliar pada triwulan I 2026. Kondisi ini dinilai wajar karena terjadi normalisasi kebutuhan uang kartal setelah meningkat tajam pada periode Natal dan Tahun Baru.

"Pada Triwulan I 2026 pengelolaan uang Rupiah di Sulawesi Utara mencatatkan net inflow atau uang masuk sebesar Rp 513,57 miliar," kata Purwanto di Manado, Jumat.

Ia menjelaskan kondisi tersebut sejalan dengan pola musiman peredaran uang di daerah. Setelah hari besar keagamaan, masyarakat cenderung menyimpan kembali uangnya di perbankan, sehingga uang tunai yang beredar di masyarakat berkurang.

QRIS dan E-Wallet Jadi Primadona Baru

Purwanto menegaskan bahwa metode pembayaran yang paling sering digunakan masyarakat Sulut kini meliputi dompet digital (e-wallet), mobile banking, serta standar kode QR nasional yaitu QRIS. Kepraktisan dan kecepatan menjadi alasan utama pergeseran perilaku ini.

"Perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya pemanfaatan kanal pembayaran digital oleh masyarakat di Sulut," ujarnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di pusat kota Manado, tetapi juga merambah ke kabupaten-kabupaten seperti Minahasa, Bitung, dan Kotamobagu. Para pedagang di pasar tradisional hingga pelaku UMKM kini mulai familier dengan pemindai kode QR untuk menerima pembayaran.

Dampak bagi UMKM dan Perbankan

Meningkatnya transaksi digital berdampak langsung pada efisiensi perputaran uang di sektor usaha kecil. Pelaku UMKM tidak lagi perlu menyimpan uang tunai dalam jumlah besar, mengurangi risiko kehilangan atau uang palsu.

Bagi perbankan, tren ini membuka peluang perluasan layanan digital banking. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan transaksi nontunai akan terus berlanjut seiring meningkatnya literasi keuangan digital masyarakat Sulut.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top