SULAWESI UTARA — Kepala BI Perwakilan Sulawesi Utara, Joko Supratikto, menegaskan investasi merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Momentum pertumbuhan ekonomi yang kuat harus dimanfaatkan dengan menghadirkan iklim investasi yang semakin kompetitif, terutama di sektor bernilai tambah tinggi.
"NSIF mampu mengakselerasi pertumbuhan investasi di Sulut, karena investasi merupakan motor pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Joko dalam forum bertema Driving Value Creation: Advancing Downstream and Green Investment in North Sulawesi.
BI mencatat portofolio investasi di Sulut kini semakin beragam. Sektor perikanan, pariwisata, industri pengolahan, transportasi dan logistik, layanan kesehatan, hingga penyediaan air minum menjadi primadona baru, menggantikan ketergantungan pada eksploitasi sumber daya alam.
"Kondisi ini menunjukkan investasi di Sulut tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan mulai bergerak ke arah hilirisasi dan penciptaan nilai tambah," kata Joko.
Untuk memastikan proyek yang ditawarkan layak dan siap masuk pasar, BI bersama pemerintah daerah melakukan pendampingan proyek secara intensif. Langkah ini ditempuh agar setiap proyek memenuhi standar investor dan tidak sekadar menjadi wacana.
Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Johannes Victor Mailangkay, memaparkan tiga keunggulan utama daerahnya. Pertama, posisi strategis sebagai gerbang Indonesia di kawasan Pasifik. Kedua, pengembangan Sulut sebagai hub logistik terintegrasi untuk mendukung arus perdagangan Kawasan Timur Indonesia.
Ketiga, besarnya potensi hilirisasi pada sektor kelautan, perikanan, dan pertanian. Victor menambahkan, Sulut merupakan salah satu provinsi paling progresif dalam pembangunan energi baru terbarukan (EBT). Prospek ini dinilai selaras dengan arah investasi global yang semakin berorientasi pada ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.
Forum ini diharapkan menjadi panggung bagi Sulut untuk menegaskan kesiapan sebagai salah satu tujuan investasi paling prospektif di Kawasan Timur Indonesia. Pertemuan antara pemerintah, investor, pelaku usaha, lembaga keuangan, pemilik proyek, hingga delegasi internasional ini bertujuan mempercepat realisasi investasi yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.