SULAWESI UTARA — Framework kembali menyegarkan lini produknya. Setelah merilis varian kelas atas untuk Laptop 13, kini giliran Laptop 12 yang mendapatkan peningkatan signifikan pada sektor dapur pacunya. Laptop berukuran 12,2 inci ini kini resmi menggunakan prosesor Intel Core Series 3, menggantikan chip generasi sebelumnya.
Pembaruan utama ada pada pilihan prosesor yang bervariasi sesuai konfigurasi. Model rakitan pabrik (pre-built) menawarkan tiga tingkatan: Core 3 dengan RAM 8GB, Core 5 dengan RAM 16GB, dan Core 7 dengan RAM 32GB. Framework juga menyediakan opsi RAM hingga 48GB untuk pengguna yang membutuhkan kapasitas lebih besar, dengan biaya tambahan US$ 659 (sekitar Rp 10,9 juta).
Selain prosesor, laptop ini mendukung RAM DDR5 yang lebih cepat serta dua port Thunderbolt 4 melalui sistem Expansion Cards yang dapat ditukar. Layar sentuh 12,2 inci masih dipertahankan tanpa perubahan berarti.
Framework mengklaim peningkatan efisiensi chip baru ini berdampak langsung pada daya tahan baterai. Dalam pengujian internal, varian Core 5 menunjukkan performa streaming Netflix 70 persen lebih lama dibandingkan versi Core i5 dari Laptop 12 generasi pertama. Peningkatan ini menjadikan Laptop 12 sebagai pilihan menarik bagi pengguna yang sering bekerja secara mobile.
Pembeli kini dapat mengonfigurasi laptop ini dengan keyboard backlit dan pemindai sidik jari. Khusus untuk varian pre-built Core 5 dan Core 7 yang menjalankan Linux, kedua fitur tersebut sudah terpasang secara default.
Menariknya, Framework mencatat lebih dari 80 persen pemilik Laptop 12 generasi pertama menggunakan Linux. Oleh karena itu, model terbaru ini akan tersedia dengan sistem operasi Fedora terinstal langsung dari pabrik. Pengguna yang ingin beralih ke Windows 11 bisa memilih opsi upgrade sebesar US$ 100 (sekitar Rp 1,65 juta). Framework juga telah berkoordinasi dengan distribusi Linux lain agar kompatibilitas perangkat keras siap saat peluncuran.
Framework Laptop 12 terbaru dibanderol mulai US$ 699 (sekitar Rp 11,5 juta) untuk konfigurasi pre-built Linux dengan warna hijau. Sementara itu, versi DIY (tanpa sistem operasi) dijual lebih murah, US$ 549 (sekitar Rp 9,1 juta), dengan pilihan warna hitam, abu-abu, ungu muda, pink, atau hijau.
Pre-order sudah dibuka dan pengiriman dijadwalkan dimulai pada Oktober. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan dan harga untuk pasar Indonesia. Framework selama ini hanya menjual produknya secara langsung melalui situs resmi mereka, sehingga konsumen di Tanah Air perlu memperhitungkan biaya pajak dan ongkos kirim internasional.
Dengan banderol yang relatif premium untuk kelas laptop 12 inci, Framework Laptop 12 tidak bersaing di segmen entry-level murni. Nilai jual utamanya justru terletak pada desain modular yang memungkinkan pengguna mengganti komponen seperti RAM, storage, dan port I/O sendiri. Ini menjadi pembeda utama dibandingkan kompetitor sekelas seperti Lenovo ThinkPad X1 Nano atau Dell Latitude 7330 yang menawarkan spesifikasi serupa namun tidak bisa di-upgrade penggunanya.
Laptop ini paling cocok untuk pengguna yang menghargai hak untuk memperbaiki (right to repair), pekerja IT, atau pelajar yang ingin mempelajari perangkat keras. Namun, bagi pengguna awam yang hanya membutuhkan laptop ringkas untuk tugas harian, opsi lain dengan harga lebih terjangkau mungkin lebih masuk akal.