MANADO — Kesenjangan literasi dan inklusi keuangan syariah di Sulawesi Utara masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi OJK SulutGo. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan umum di Sulut sudah mencapai 94,37 persen, tetapi inklusi keuangan syariah hanya berada di angka 5,11 persen.
Kepala OJK SulutGo, Robert Sianipar, mengungkapkan bahwa indeks literasi keuangan syariah bahkan mengalami penurunan 0,35 persen dibanding tahun sebelumnya. "Kondisi ini mengindikasikan bahwa diperlukan upaya khusus dan kolaborasi yang masif dalam mendorong keputusan masyarakat untuk menggunakan produk keuangan syariah," ujarnya dalam Media Update TW-III 2026 di kantor BPS Sulut, Rabu (19/8/2026).
Salah satu penghambat utama penetrasi keuangan syariah di daerah adalah terbatasnya akses fisik. OJK mencatat 83 persen jaringan kantor perbankan syariah masih terpusat di Pulau Jawa dan Sumatra.
Dari sisi layanan, baru ada 5 Bank Umum Syariah dan 15 BPRS yang menyediakan Agen Laku Pandai Syariah. Sebarannya pun timpang, dengan 43,2 persen berada di Jawa dan Sumatra.
Selain soal akses, produk keuangan syariah dinilai belum cukup terdiversifikasi dan minim pemanfaatan teknologi. OJK menyoroti produk yang ada kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat, belum optimal secara digital, serta belum menunjukkan keunggulan yang membedakannya dari produk konvensional.
Menjawab tantangan itu, OJK SulutGo merancang strategi yang bertumpu pada empat pilar: akselerasi edukasi, pengembangan model inklusi, penguatan infrastruktur literasi, serta aliansi strategis dengan kementerian dan pemangku kepentingan.
Robert memaparkan sejumlah program terstruktur yang menyasar segmen spesifik. Untuk masyarakat umum, ada Kampanye Nasional GERAK Syariah dan Flagship Event EKSIS. Khusus perempuan dan ibu rumah tangga, disiapkan program SICANTIKS.
Pelajar dan mahasiswa menjadi sasaran Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO), sementara penyuluh agama mendapat pelatihan melalui School of Syariah. "Kami juga menghadirkan program edukasi khusus seperti Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah bagi perempuan dan ibu rumah tangga," jelas Robert.
Untuk memperluas akses, OJK menginisiasi Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS). Program ini dirancang untuk membuka rekening, agen laku pandai, hingga pembiayaan berbasis komunitas.
UMKM menjadi perhatian khusus lewat Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS). Forum ini memfasilitasi business matching agar pelaku usaha kecil lebih mudah mendapatkan pembiayaan syariah. Selain itu, Syariah Financial Fair (SYAFIF) digelar sebagai ajang pameran produk dan jasa keuangan syariah di daerah.