MANADO — Pergerakan harga emas dunia pada pekan depan masih dibayangi potensi pelemahan, menyusul gagalnya laju kenaikan menembus zona resistance penting. Dupoin Futures mengidentifikasi area 4.617–4.643 sebagai level krusial yang harus ditembus untuk mengubah struktur bearish yang sedang berlangsung.
Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menjelaskan bahwa upaya buyer mendorong harga mendekati zona tersebut belum menghasilkan breakout yang meyakinkan. Kondisi ini menunjukkan seller masih memegang kendali untuk mempertahankan resistance dan membatasi ruang apresiasi emas.
Jika tekanan jual kembali meningkat, proyeksi pelemahan emas akan menguji support pertama di kisaran 4.540. Level ini dinilai krusial karena menjadi titik pertemuan antara tekanan jual dan potensi minat beli baru.
Apabila level 4.540 berhasil dipertahankan buyer, terdapat peluang terjadinya rebound teknikal. Namun, jika tembus dengan momentum bearish yang kuat, pelemahan diperkirakan berlanjut menuju support berikutnya di angka 4.517.
Meski skenario utama masih bearish, Dupoin Futures tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan arah. Sinyal yang perlu dicermati adalah keberhasilan harga menembus resistance 4.643 dan bertahan di atas level tersebut.
Breakout yang valid dapat mengindikasikan seller mulai kehilangan kendali dan buyer kembali mendapatkan momentum, sehingga berpeluang mengubah struktur pasar dari bearish menuju bullish.
Selain faktor teknikal, perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi katalis penting bagi pergerakan emas pekan depan. Dupoin Futures menyoroti perhatian pasar terhadap pidato Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole.
Pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataan yang memberikan petunjuk arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), terutama di tengah inflasi AS yang masih menjadi perhatian utama. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat berdampak langsung pada dolar AS dan Treasury Yield, yang selanjutnya memengaruhi pergerakan XAUUSD.
Apabila The Fed menunjukkan sikap hawkish dan memberi sinyal mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, dolar AS dan yield Treasury berpotensi menguat. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena kenaikan yield meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, pernyataan dovish dari pejabat The Fed dapat memberi ruang bagi emas untuk kembali menguat. Jika pasar yakin terhadap pelonggaran kebijakan moneter, tekanan pada dolar AS dan yield dapat berkurang, sehingga emas kembali diminati investor.
Faktor geopolitik juga menjadi perhatian dalam melihat prospek emas pekan depan. Kebijakan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran serta perkembangan situasi di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.
Ketegangan geopolitik yang meningkat biasanya mendorong investor mencari aset safe haven, termasuk emas. Namun, jika ketegangan mereda dan situasi stabil, permintaan safe haven berpotensi berkurang, membuat pergerakan emas lebih banyak dipengaruhi oleh dolar AS, Treasury Yield, serta ekspektasi kebijakan The Fed.