Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan serangan Amerika Serikat ke Pulau Larak di Iran selatan telah menewaskan dan melukai sejumlah pejuang serta warga. Serangan yang terjadi pada Minggu (30/8) itu memantik ancaman balasan keras dari Teheran terhadap apa yang disebut sebagai agresi musuh Amerika-Zionis.
MANADO — Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Pulau Larak yang berada di provinsi Hormozgan, Iran selatan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah pejuang serta warga, dan bersumpah akan memberikan balasan serta hukuman kepada agresor.
Pernyataan itu dirilis departemen hubungan masyarakat IRGC pada Minggu (30/8). Dalam pernyataannya, IRGC menuduh Washington melakukan aksi agresi yang didorong oleh ketidakmampuan menyelesaikan masalah internal dan merosotnya kredibilitas AS di antara negara-negara kawasan.
"Musuh Amerika-Zionis, yang sekali lagi didorong oleh ketidakmampuannya untuk menyelesaikan masalah internalnya serta merosotnya kredibilitas mereka di antara negara-negara di kawasan, dan dalam upaya untuk menghidupkan kembali peran jahatnya … telah melakukan aksi agresi yang menargetkan Pulau Larak yang menewaskan dan melukai sejumlah pejuang serta warga kami," demikian bunyi pernyataan IRGC.
Pernyataan ini menjadi sinyal paling keras dari Teheran pasca-insiden. Namun, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai jumlah korban maupun kerusakan yang ditimbulkan di Pulau Larak.
Sebelum pernyataan resmi IRGC, kantor berita Fars melaporkan bahwa warga setempat mengaku mendengar ledakan di dekat Pulau Larak. Pada awalnya, lokasi pasti dan penyebab ledakan tersebut belum dapat dipastikan.
Sementara itu, kantor berita Tasnim menyebutkan informasi awal menunjukkan adanya serangan drone yang menargetkan suatu lokasi di pulau tersebut. Pulau Larak dikenal sebagai salah satu titik penting di kawasan Selat Hormuz.
Laporan dari pihak Iran ini muncul setelah media AS memberitakan bahwa pasukan Amerika telah menghantam pulau tersebut. Menurut laporan itu, pasukan Iran terlihat tengah bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau ke Selat Hormuz dari lokasi di Pulau Larak.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi langsung berdampak pada harga energi global dan stabilitas ekonomi, termasuk bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah.
Ancaman balasan dari IRGC meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Jika Selat Hormuz terganggu, rantai pasok energi dunia bisa tersendat, memicu lonjakan harga komoditas di pasar internasional.
Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Indonesia terkait insiden ini. Namun, Kementerian Luar Negeri biasanya akan mengeluarkan imbauan bagi WNI di kawasan untuk meningkatkan kewaspadaan apabila situasi terus berlanjut.
Para pengamat menilai bahwa serangan ini merupakan babak terbaru dari ketegangan berkepanjangan antara Washington dan Teheran. Dengan adanya janji balasan dari IRGC, fokus dunia kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil kedua negara di tengah situasi yang sudah rapuh tersebut.