SULAWESI UTARA — PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menilai sinergi yang konsisten merupakan faktor penentu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas. Perseroan menyebut kolaborasi ini mencakup tiga aspek utama: penguatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi produk, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil.
“Pengembangan desa wisata dan UMKM membutuhkan kolaborasi yang konsisten antara berbagai pihak. Mulai dari penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar,” ujar Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Widodo menjelaskan, komitmen tersebut diwujudkan BCA melalui program creating shared value (CSV) Bakti BCA. Salah satu instrumennya adalah kegiatan bertajuk Desa Bakti BCA Community Forum 2026 yang berlangsung pada 25-27 Agustus 2026.
Forum tahunan yang sebelumnya bernama Rapat Koordinasi (Rakor) ini difungsikan sebagai wadah evaluasi program, peningkatan kapasitas, sekaligus penguatan kolaborasi. Peserta yang terlibat mencakup pengurus Desa Bakti BCA, pelaku UMKM, perwakilan pemerintah, hingga mitra strategis Perseroan.
Melalui forum ini, masing-masing pemangku kepentingan dipertemukan untuk berbagi pengalaman dan mengidentifikasi peluang pengembangan. Tujuannya, program yang berjalan dapat selaras dengan kebutuhan aktual masyarakat di lapangan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menambahkan, perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung cepat menuntut masyarakat desa untuk adaptif. Kemampuan, pengetahuan, dan jejaring yang memadai menjadi modal dasar agar potensi daerah dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Desa Bakti BCA Community Forum menjadi ruang bagi kami untuk terus belajar bersama, mengevaluasi program, dan memperkuat kapasitas para penggerak desa wisata maupun pelaku UMKM,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, para peserta forum dibekali sejumlah materi strategis. Materi tersebut meliputi aspek kepemimpinan dan regenerasi pengurus desa wisata, penguatan kapasitas produk, serta pemanfaatan transformasi digital untuk memperluas jangkauan pasar.
Pembekalan ini dinilai krusial, mengingat regenerasi pengurus menjadi isu yang kerap dihadapi komunitas desa wisata. Tanpa kaderisasi yang baik, keberlanjutan program pengembangan ekonomi lokal berisiko terhambat.
Dengan pendekatan yang mencakup aspek capacity building dan akses pasar, BCA berharap program Bakti BCA tidak hanya berhenti pada tahap pendampingan. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi yang terukur bagi masyarakat dan mendorong kemandirian pengelola desa wisata serta UMKM binaan.