Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) menggagas identitas baru bagi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal melalui konsep bisnis ramah lingkungan. Kepala BI Sulut Joko Supratikto menyebut transformasi ini menjadi kunci daya saing produk khas daerah di pasar nasional dan global.
MANADO — Ekonomi hijau tidak lagi sekadar wacana, tetapi menjadi arah baru pengembangan UMKM di Sulawesi Utara. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut secara konsisten mendorong para pelaku usaha beralih ke praktik bisnis berkelanjutan yang memperhatikan kelestarian lingkungan dalam seluruh proses operasional.
Kepala BI Sulut Joko Supratikto menegaskan bahwa pendampingan yang dilakukan saat ini difokuskan pada produk pertanian dan kerajinan agar mampu naik tahapan menjadi UMKM hijau sesuai pedoman yang ditetapkan.
Menurut Joko, prinsip utama yang dikembangkan BI adalah panduan dan model bisnis agar pelaku usaha bertransisi secara hijau. Ada tiga fokus utama yang menjadi perhatian dalam proses transisi tersebut.
BI Sulut secara khusus menjadikan komoditas kopi sebagai representasi ekonomi berkelanjutan daerah. Lewat penguatan gerakan korporasi, produk ramah lingkungan ini diarahkan menjadi ciri khas baru yang membedakan UMKM Kawanua di tengah persaingan pasar.
"Kami memperkuat gerakan korporasi dan business matching pembiayaan, di mana pembiayaan hijau menjadi bagian penting dalam mendukung ekspansi usaha," kata Joko di Manado, Senin.
Dukungan terhadap rantai pasok juga menjadi perhatian serius. BI memastikan integrasi berjalan dari hulu ke hilir, mulai dari petani, pengolah, hingga barista dan UMKM, sehingga terhubung dalam satu ekosistem hijau yang berkelanjutan.