Satelit Copernicus Tangkap Karhutla Ketapang, Sebaran Asap Terekam dari Angkasa

Penulis: Wisnu Wardana  •  Sabtu, 05 September 2026 | 10:33:01 WIB
Citra satelit Sentinel-2 merekam titik api dan sebaran asap karhutla di Ketapang, Kalimantan Barat.

SULAWESI UTARA — Dampak karhutla di Ketapang terlihat jelas dari orbit Bumi. Sentinel-2, satelit observasi resolusi tinggi milik program Copernicus, menangkap titik api berwarna jingga-merah yang tersebar di sejumlah area. Gumpalan asap abu-putih tampak membentang melintasi lanskap daratan menuju pesisir barat Kalimantan.

Rekaman ini bukan sekadar dokumentasi visual. Data tersebut menjadi indikator awal meluasnya kebakaran lahan gambut, jenis tanah yang menyimpan cadangan karbon besar dan sulit dipadamkan karena api dapat merambat di bawah permukaan.

Lebih dari 50.000 Kasus ISPA Terkait Asap Terdata

Kementerian Kesehatan mencatat dampak kesehatan yang signifikan akibat kabut asap. Sepanjang Juli hingga Agustus 2026, lebih dari 50.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan terjadi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 12.000 kasus menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun.

Kualitas udara di sejumlah lokasi pun dilaporkan memburuk hingga masuk kategori tidak sehat dan berbahaya. Situasi ini sebelumnya sempat memaksa pemerintah daerah menetapkan status penanganan darurat kebakaran.

El Nino dan IOD Positif Perparah Musim Kebakaran

Robert Field, peneliti Columbia University yang mengembangkan Global Fire Weather Database, mengatakan Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakaran. Namun, aktivitas kebakaran sudah menunjukkan peningkatan tajam yang mirip dengan kejadian besar di 2015.

Kondisi itu dipicu menguatnya El Nino sejak Agustus 2026, bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD). Kombinasi keduanya menekan curah hujan dan membuat wilayah rawan kebakaran semakin kering.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 946 titik panas di Indonesia pada 31 Agustus 2026. Hingga 2 September, emisi karbon dari kebakaran tahun ini diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran besar 2015.

Peran Teknologi Satelit dalam Deteksi Dini

Pemantauan karhutla kini bertumpu pada teknologi antariksa. Sentinel-2 mampu menghasilkan citra beresolusi tinggi untuk mengidentifikasi area terbakar dan memantau perubahan permukaan Bumi secara berkala.

Selain Copernicus, layanan Fire Emissions Watch dari CAMS (Copernicus Atmosphere Monitoring Service) menyediakan data aktivitas kebakaran dan emisi yang dihasilkan. Informasi ini membantu menilai pengaruh kebakaran terhadap atmosfer dan kualitas udara di tingkat lokal maupun regional.

Indonesia juga memanfaatkan sistem nasional dan data satelit lain untuk mendeteksi titik panas serta mendukung respons petugas di lapangan. Sebelumnya, satelit Aqua milik NASA sempat menangkap ratusan titik api yang tersebar di lahan gambut Indonesia pada 1 September 2026.

Ancaman Api Bawah Permukaan yang Sulit Dipadamkan

Ancaman terbesar karhutla saat musim kemarau adalah api yang masuk ke lapisan gambut. Kebakaran jenis ini dapat terus membara di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan hingga hujan deras turun.

Asap yang muncul dari pembakaran material organik ini kerap berlangsung lama meski kobaran api di permukaan tidak terlihat. Kondisi inilah yang membuat dampak kebakaran gambut bertahan lebih lama dibandingkan kebakaran hutan biasa.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top