Lulusan S2 Masuk Desil 5 tapi Hidup Pas-pasan, Pacitan Punya UMK Terendah di Eks Karesidenan Madiun

Penulis: Wisnu Wardana  •  Senin, 07 September 2026 | 08:33:31 WIB
Warga melintas di dekat papan informasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di kantor desa setempat, Pacitan, Jawa Timur.

SULAWESI UTARA — Pemerintah Kabupaten Pacitan kini bertumpu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk menyasar bantuan sosial secara lebih akurat. Pemetaan ini membagi warga ke dalam sepuluh kelompok kesejahteraan, dari Desil 1 sebagai kelompok termiskin hingga Desil 10 untuk kelompok terkaya. Penentuan desil ini yang kemudian menjadi salah satu acuan pemberian bansos.

Namun, posisi di tengah tidak selalu berarti aman. Seorang warga yang masuk Desil 5, misalnya, tidak otomatis tercoret dari daftar penerima bantuan. Dalam beberapa skema, mereka masih bisa diusulkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK).

Gaji UMK Pacitan Paling Rendah di Kawasan Madiun Raya

Gambaran sulitnya hidup di Pacitan juga terlihat dari besaran upah minimum. Pada 2026, UMK Pacitan ditetapkan sebesar Rp2.514.892 per bulan. Bandingkan dengan Ngawi yang mencapai Rp2.556.815, Magetan Rp2.553.866, Kabupaten Madiun Rp2.553.221, dan Ponorogo Rp2.549.876.

Dengan penghasilan sekitar Rp2,5 juta, seorang pekerja harus membiayai makan, transportasi, tempat tinggal, listrik, hingga pendidikan keluarga. Itu pun jika tempat kerjanya membayar sesuai UMK. Pada praktiknya, masih ada pemberi kerja yang membayar di bawah standar.

Kisah Lulusan S2 di Desil 5

Seorang warga Pacitan yang menempuh S1 dan S2 dengan beasiswa penuh di kampus negeri Solo mengaku hidupnya pas-pasan. Ia memiliki pengalaman di bidang film, menulis buku, dan mengerjakan pekerjaan kreatif lain. Namun, gelar dan portofolio itu tidak lantas membuatnya mudah mendapat pekerjaan dengan penghasilan tinggi.

"Saya lulusan S2, tetapi masuk Desil 5," tulisnya dalam sebuah artikel di Mojok.co.

Ia menegaskan, berada di Desil 5 tidak membuat hidupnya mapan. Setiap pengeluaran tetap harus dihitung ketat agar uangnya cukup sampai akhir bulan. Baginya, angka desil tidak selalu menggambarkan perasaan aman secara ekonomi.

Keheranan pada Data Desil Pemetaan desil juga membuatnya bingung ketika melihat kondisi orang terdekat. Ia memiliki saudara ipar bernama Rufi, 38 tahun, yang bekerja sebagai kontraktor jalan. Pekerjaan itu menuntut Rufi sering bepergian ke luar kota, bahkan luar pulau. Namun, ia heran bagaimana orang dengan mobilitas dan jenis pekerjaan seperti Rufi bisa masuk Desil 9.

Kasus ini menunjukkan bahwa data kesejahteraan kadang tidak selaras dengan realitas di lapangan. Bagi warga yang merasa datanya keliru, proses verifikasi dan validasi lewat DTSEN menjadi penting agar bantuan tepat sasaran. Informasi lebih lanjut mengenai mekanisme pengaduan data dapat diakses melalui kanal resmi Dinas Sosial setempat.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: mojok.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top