Harga Minyak Dunia Tembus USD 107, Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tak Naik

Penulis: Zainul Arifin  •  Sabtu, 12 September 2026 | 07:50:02 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

SULAWESI UTARA — Pemerintah memutuskan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah lonjakan harga minyak mentah global. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan keputusan itu diambil setelah Presiden Prabowo Subianto menilai daya beli masyarakat menengah ke bawah lebih penting ketimbang menyesuaikan harga.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9), sehari setelah harga minyak mentah Brent berjangka ditutup di USD 107,63 per barel. Minyak mentah AS (WTI) juga menembus USD 100, yakni USD 102,48 per barel pada penutupan Kamis (10/9).

Harga BBM Subsidi Tidak Naik Sampai Akhir Tahun

Bahlil menegaskan tidak ada penyesuaian harga untuk BBM subsidi. Ia menyebut keputusan itu berlaku sampai akhir tahun.

"Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu. Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan," kata Bahlil.

Menurutnya, fluktuasi harga minyak dunia bukan persoalan mudah. Pemerintah memilih menambah anggaran subsidi sebagai konsekuensinya.

"Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kita lakukan menambah anggaran subsidi, saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan," ujar Bahlil.

Rata-Rata Harga Minyak Indonesia Masih di Kisaran USD 85-90

Bahlil menjelaskan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) Agustus 2026 naik ke level USD 89,43 per barel. Kenaikan itu dipengaruhi harga minyak dunia sepanjang Agustus 2026 akibat faktor geopolitik.

Meski harga minyak dunia kini berada di USD 106-108 per barel, rata-rata ICP Januari sampai September masih di kisaran USD 85-90 per barel. Angka itu menjadi dasar pemerintah menahan harga BBM subsidi.

"Sekalipun sekarang sudah menjadi USD 106 sampai 108 per barrel (minyak dunia) tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar USD 85 sampai USD 90. Jadi masih overall masih oke," tegas Bahlil.

Apa Dampaknya bagi Pengguna BBM Subsidi?

Keputusan ini berarti harga jual BBM subsidi di SPBU tidak berubah dalam waktu dekat. Namun, bahan artikel ini tidak menyebut jenis BBM subsidi mana yang dimaksud, besaran subsidi per liter, maupun total anggaran tambahan yang disiapkan.

Masyarakat yang ingin memastikan harga berlaku di wilayahnya dapat memantau kanal resmi Kementerian ESDM atau PT Pertamina (Persero). Informasi lengkap soal pos anggaran subsidi biasanya disampaikan melalui dokumen APBN dan pengumuman resmi kementerian.

Yang Perlu Dipantau ke Depan

Pernyataan Bahlil belum menyertakan jadwal evaluasi harga berikutnya. Pemerintah juga tidak merinci berapa lama kebijakan ini bisa bertahan jika harga minyak dunia terus naik di atas USD 100 per barel.

Pembaca disarankan mengikuti pengumuman resmi Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan untuk perkembangan anggaran subsidi. Waspadai informasi harga BBM dari sumber tidak resmi, termasuk pesan berantai yang mengklaim kenaikan atau penurunan harga tanpa dasar.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: kumparan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top