MANADO — Kombes Pol Malpa Malacoppo, S.H., S.I.K., M.I.K. mengemban jabatan baru sebagai Dirintelkam Polda Sulawesi Utara. Pelantikan berlangsung di Markas Polda Sulut dan dipimpin langsung Kapolda Brigjen Pol Yudo Hermanto, S.I.K., M.M., Senin (21/9/2026).
Posisi Dirintelkam sebelumnya diemban Kombes Pol Sugeng Prayitno. Alumni Akpol 1991 itu menjabat sejak Januari 2025 dan memasuki masa pensiun pada akhir Agustus 2026. Kekosongan jabatan itu diisi Malpa yang naik pangkat dari Agen Intelijen Kepolisian Madya Tingkat III Baintelkam Polri.
Nama Malpa bukan sosok baru di lingkungan intelijen kepolisian. Saat menjabat Kapolres Tana Toraja periode 2023–2025, ia membawa satuan itu keluar sebagai Polres terbaik dalam pengungkapan kasus di seluruh jajaran Polda Sulawesi Selatan.
Pendekatan yang ia kedepankan bukan semata penindakan hukum formal. Malpa secara masif mendorong penyelesaian perkara lewat mediasi atau restorative justice (RJ). Cara itu dinilai efektif meredam konflik horizontal di tengah masyarakat Toraja sekaligus menekan tunggakan perkara secara signifikan.
Pelantikan Senin itu tidak hanya mengisi kursi Dirintelkam. Jabatan Kabid Humas Polda Sulut berpindah dari Kombes Pol Dr. Alamsyah Parulian Hasibuan, S.I.K., M.H. kepada Kombes Pol Steidy Raranta, S.I.K.
Alamsyah mendapat penugasan baru sebagai Kaprodi S1 HK Kepol Ditprog Sarjana STIK Lemdiklat Polri. Mutasi ini menempatkannya kembali ke jalur pendidikan kepolisian setelah bertugas di bidang kehumasan.
Malpa menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1997. Ia melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) dan menyandang tiga gelar akademik: Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.), serta Magister Ilmu Kepolisian (M.I.K.).
Jejak kariernya melewati sejumlah posisi strategis di beberapa daerah:
Pengalaman panjang di bidang intelijen dan keamanan menjadi modal Malpa memimpin Direktorat Intelijen dan Keamanan Polda Sulut. Wilayah Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Filipina dan memiliki sejumlah daerah rawan konflik sosial menuntut kerja intelijen yang presisi.