Pusat Vulcanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM memastikan potensi erupsi susulan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih tetap ada meski aktivitas vulkaniknya terpantau menurun. Kepala PVMBG Rita Susilawati menyatakan penurunan aktivitas itu tidak berarti gunung api tersebut berhenti bergerak. Pihaknya pun terus melakukan pemantauan ketat selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi bahaya yang bisa mengancam warga dan nelayan di sekitar kawasan.
SERANG — Kepala PVMBG Rita Susilawati menegaskan bahwa tren penurunan yang terekam alat pemantau tidak bisa diartikan sebagai akhir dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pernyataan itu ia sampaikan usai meninjau Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Minggu.
"Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitasnya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi," kata Rita.
Status Siaga Level III Tidak Diukur dari Skala Letusan
Rita menjelaskan penetapan status Level III (Siaga) yang berlaku saat ini tidak semata-mata ditentukan oleh besar kecilnya skala letusan. Hal itu justru lebih merujuk pada tingkat ancaman bahaya yang ditimbulkan terhadap masyarakat yang beraktivitas di sekitar gunung.
Mengingat erupsi yang terjadi secara terus-menerus dapat membahayakan keselamatan, PVMBG merekomendasikan larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah. Imbauan ini ditujukan terutama bagi warga dan nelayan yang kerap beraktivitas di perairan sekitar gunung.
Sebaran Abu Vulkanik Dipantau Lintas Negara demi Keselamatan Penerbangan
Selain memantau getaran dan aktivitas magma, PVMBG juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melacak pergerakan abu vulkanik. Bahkan, lembaga tersebut memanfaatkan data dari stasiun pemantau di Australia guna membaca perubahan arah angin secara akurat.
"Kami memonitor di sini ada beberapa stasiun pengamatan, bekerja sama dengan BMKG dan juga ada stasiun di Australia yang kita bisa bersama-sama memantau perubahan arah angin untuk abu ini, karena abu ini juga akan memengaruhi penerbangan," ujarnya.
Pada 6 September lalu, sebaran abu vulkanik terekam mengarah ke wilayah barat, bagian selatan Selat Sunda, hingga ke Samudra Hindia. Arah sebaran ini dinilai sangat dinamis karena bergantung pada embusan angin yang bisa berubah setiap hari.
PVMBG Tak Bisa Prediksi Waktu Pasti Erupsi
Rita mengakui bahwa secara ilmiah, waktu erupsi yang presisi tidak mungkin diketahui. Upaya yang bisa dilakukan institusinya hanyalah memantau secara berkelanjutan dan membaca tanda-tanda alam yang terekam di peralatan.
"Kapan erupsinya secara persis itu tidak bisa kita ketahui. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya," tutup Rita.
Seluruh hasil pengamatan yang diperoleh PVMBG akan terus dikomunikasikan kepada pemerintah daerah setempat. Hal ini penting dilakukan terutama apabila terjadi perubahan rekomendasi penanganan kebencanaan di lapangan.