SULAWESI UTARA — Arema FC mengalahkan Dewa United 4-0 pada pekan ketujuh meski hanya menguasai 34 persen bola. Pelatih interim Andre Caldas menyebut ketenangan menghadapi tekanan awal jadi penentu kemenangan pertama atas tim peringkat kedua tersebut.
Duel di kandang Singo Edan itu berjalan tidak seperti perkiraan banyak orang. Dewa United memegang 66 persen penguasaan bola dan melepaskan 21 tembakan, tetapi tidak satu pun berbuah gol. Arema justru efisien: 10 tembakan dengan akurasi 56 persen berujung empat gol.
Statistik itu menegaskan satu hal. Penguasaan bola bukan jaminan kemenangan. Dewa United unggul dalam penguasaan bola dan volume serangan, tetapi Arema lebih tajam saat peluang datang.
Andre Caldas mengakui timnya kesulitan menghadapi tekanan Dewa United di awal laga. Pelatih asal Brasil itu meminta pemain tidak kehilangan kendali ketika permainan belum berjalan sesuai rencana.
"Kami sudah punya rencana permainan, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa lawan kami adalah tim peringkat kedua di kompetisi ini," kata Andre Caldas, dikutip dari laman ILeague, Selasa (27/10).
"Dewa United sangat kuat dan juga agresif. Namun, yang terpenting adalah jika segalanya tidak berjalan lancar dalam 5–10 menit pertama, kita tidak boleh panik atau kehilangan kendali. Kita harus tetap tenang, bersabar dan yang utama, jangan sampai kebobolan," imbuhnya.
Instruksi itu terbukti. Setelah bertahan dari gempuran awal, Arema mulai menemukan ruang untuk melancarkan serangan balik.
Morais Careca membuka keunggulan Arema pada menit ke-30. Gol itu mengangkat kepercayaan diri tuan rumah yang sebelumnya lebih banyak bertahan.
"10–15 menit awal memang berat. Namun, setelah itu kami mulai melancarkan serangan balik dan mampu menguasai bola di sisi lapangan. Begitulah cara kami bermain. Kemudian, Careca mencetak gol yang indah, dan jalannya pertandingan pun berubah," ujar Andre Caldas.
"Kami mulai lebih banyak menguasai bola dan lebih memegang kendali permainan. Sekali lagi, yang terpenting adalah tidak kebobolan," sambungnya.
Careca mencetak gol keduanya pada menit ke-52. Samuel Otusanya menambah keunggulan pada menit ke-65, lalu Julian Guevara melengkapi kemenangan lewat gol pada masa tambahan waktu.
Empat gol itu lahir bukan dari dominasi, melainkan dari kesabaran menunggu celah. Setelah situasi berubah, Arema memperluas variasi serangan, termasuk lewat pergerakan pemain dari sisi lapangan.
"Setelah itu, gol kedua, ketiga, dan keempat pun tercipta sebagai konsekuensinya. Intinya, jangan panik saat keadaan tidak berjalan baik di menit-menit awal. Itu bagian dari sepak bola, terkadang kita tampil bagus, terkadang lawan yang tampil lebih baik," pungkas Andre Caldas.
Hasil ini menjadi kekalahan pertama Dewa United musim ini. Bagi Arema, kemenangan telak atas tim peringkat kedua menjadi bukti bahwa bertahan rapat lalu menyerang cepat bisa jadi resep yang efektif di kompetisi ini.