MANADO — Kebijakan pencegahan stunting di Kota Manado kini menyasar siklus hidup yang lebih panjang. Tidak lagi terbatas pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang mencakup masa kehamilan hingga anak usia dua tahun, program ini diperpanjang hingga fase remaja dan dewasa.
Mengapa Pencegahan Stunting Harus Berlanjut hingga Dewasa?
Pemkot Manado menilai bahwa dampak kekurangan gizi kronis tidak berhenti saat usia balita. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif rendah dan rentan terhadap penyakit degeneratif saat dewasa. Oleh karena itu, intervensi berkelanjutan diperlukan untuk memutus rantai masalah gizi antar-generasi.
Fokus utama tetap pada 1.000 HPK karena periode ini menentukan perkembangan otak dan fisik. Namun, Pemkot juga mendorong program pendampingan bagi remaja putri dan calon pengantin untuk memastikan mereka dalam kondisi sehat sebelum memasuki masa kehamilan.
Strategi Pemkot Manado: dari Posyandu hingga Sekolah
Pemerintah daerah mengoptimalkan peran posyandu dan puskesmas di 11 kecamatan untuk mendeteksi dini kasus stunting. Selain itu, edukasi gizi dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menengah pertama dan atas.
“Kami tidak hanya menimbang dan mengukur balita. Remaja putri juga diberikan tablet tambah darah dan edukasi tentang pola makan sehat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado dalam keterangan yang diterima.
Berapa Target Penurunan Stunting di Manado?
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru, prevalensi stunting di Kota Manado masih berada di angka yang memerlukan percepatan penanganan. Pemkot menargetkan penurunan signifikan dalam dua hingga tiga tahun ke depan melalui kolaborasi lintas sektor.
Program ini melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Bantuan pangan bergizi bagi keluarga berisiko stunting juga terus disalurkan melalui mekanisme data pensasaran percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem (P3KE).
Apakah Program Ini Sudah Berjalan?
Sejumlah kelurahan di Manado telah memulai intervensi lanjutan. Di Kecamatan Malalayang, misalnya, kader posyandu rutin memantau tumbuh kembang anak hingga usia lima tahun, sementara remaja di Kecamatan Sario mendapatkan konseling gizi di puskesmas setempat.
Pemkot berharap pendekatan siklus hidup ini mampu menekan angka stunting baru sekaligus mempersiapkan generasi produktif yang sehat secara fisik dan mental. Evaluasi program akan dilakukan setiap enam bulan untuk mengukur efektivitas intervensi di setiap tahapan usia.