TOMOHON — Momentum peringatan hari kelahiran Pahlawan Nasional Lambertus Nicodemus Palar yang ke-126 dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali wacana pembangunan monumen di kota kelahirannya. Gagasan ini digagas oleh Judie Turambi, yang menilai sudah saatnya sosok diplomat ulung itu memiliki ruang penghormatan fisik yang representatif di Tomohon.
Monumen dan Kawasan Wisata Sejarah
Rencana pembangunan tidak hanya sebatas monumen patung atau tugu. Judie Turambi mengusulkan konsep yang lebih luas, yakni kawasan wisata sejarah yang terintegrasi. Kawasan ini nantinya diharapkan menjadi pusat edukasi bagi generasi muda tentang perjuangan diplomasi Babe Palar.
Babe Palar dikenal sebagai tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di panggung internasional, khususnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menjadi salah satu diplomat andalan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Mengapa Gagasan Ini Kembali Digulirkan?
Menurut Judie Turambi, peringatan hari kelahiran ke-126 menjadi momen yang tepat untuk mengingatkan publik dan pemerintah akan pentingnya menghormati jasa pahlawan. Selama ini, belum ada monumen khusus yang secara eksplisit didedikasikan untuk Babe Palar di kampung halamannya sendiri.
“Momentum ini harus dimaksimalkan agar rencana pembangunan monumen tidak hanya menjadi wacana. Kita ingin generasi muda Tomohon tahu bahwa kota ini melahirkan seorang diplomat besar yang disegani dunia,” ujar Judie Turambi dalam keterangannya.
Dukungan dan Langkah Selanjutnya
Gagasan ini diharapkan mendapat sambutan dari Pemerintah Kota Tomohon dan pihak terkait lainnya. Keberadaan kawasan wisata sejarah dinilai tidak hanya bernilai edukatif, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata baru yang menggerakkan ekonomi lokal.
Belum ada kepastian mengenai lokasi pasti dan sumber anggaran pembangunan. Namun, dengan kembali digulirkannya wacana ini, publik menantikan langkah konkret dari pemangku kepentingan untuk mewujudkan penghormatan bagi putra terbaik Sulawesi Utara tersebut.