Pencarian

BRIN dan Peneliti Sam Ratulangi Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Satu Gua Perairan Pulau Talise, Sulut

Senin, 27 Juli 2026 • 21:51:32 WIB
BRIN dan Peneliti Sam Ratulangi Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Satu Gua Perairan Pulau Talise, Sulut
Tim peneliti BRIN dan Universitas Sam Ratulangi mendokumentasikan 11 individu ikan purba Coelacanth hidup di satu gua bawah laut perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara.

Dalam satu gua bawah laut yang sama, tim peneliti mendokumentasikan 11 individu Coelacanth hidup. Jumlah itu meningkat drastis dibandingkan survei pertama pada 2009 yang hanya mencatat empat individu di lokasi yang sama. Ekspedisi kolaboratif ini menjadi tonggak baru dalam riset ikan purba di Indonesia.

52 Individu Teridentifikasi Selama 20 Tahun Riset

Prof. Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi mengungkapkan bahwa penelitian Coelacanth di Indonesia telah berlangsung lebih dari dua dekade. Sejak dimulai pada 2004, tim peneliti telah mengidentifikasi sedikitnya 52 individu Coelacanth di perairan Indonesia, serta empat individu di Afrika Selatan melalui kolaborasi internasional.

"Selama 20 tahun penelitian, kami terus berupaya memahami kehidupan Coelacanth di habitat alaminya. Temuan-temuan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam upaya konservasi spesies ini," ujar Alex dalam Simposium Marine Futures Unlocked 2 di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

CT Scan Ungkap 22 Butir Telur dalam Tubuh Coelacanth

Teknologi modern turut digunakan untuk mengungkap aspek biologi yang selama ini misterius. Pemindaian CT Scan terhadap salah satu spesimen mengungkap keberadaan 22 butir telur di dalam tubuh ikan tersebut.

Selain itu, tim juga mendokumentasikan seekor Coelacanth juvenil berukuran sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang. Temuan ini memberikan petunjuk baru mengenai proses reproduksi dan keberlanjutan populasinya. Para peneliti juga menggunakan pendekatan environmental DNA (eDNA) untuk mengidentifikasi keberadaan spesies melalui jejak genetik di lingkungan perairan.

"Keberhasilan menemukan 11 individu Coelacanth dalam satu gua dan hasil CT Scan yang menunjukkan adanya 22 telur merupakan pencapaian yang sangat berharga untuk memahami biologi dan reproduksi spesies ini," jelas Alex.

Pemprov Sulut Ajukan Pulau Talise Jadi Kawasan Konservasi

Prof. Augy Syahailatua, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menegaskan bahwa temuan ini menguatkan urgensi perlindungan habitat di Pulau Talise. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menetapkan perairan Pulau Talise sebagai kawasan konservasi atau taman suaka habitat Coelacanth.

"Konservasi Coelacanth tidak hanya bertujuan melindungi spesies langka, tetapi juga mendukung pengembangan riset ilmiah, pendidikan, dan ekowisata berbasis konservasi," ujar Augy.

Setelah penetapan kawasan konservasi nasional selesai, pemerintah bersama para peneliti berencana mengusulkan habitat Coelacanth Pulau Talise sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kawasan tersebut berada di Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di dunia.

Habitat Membentang dari Biak hingga Buol

Penelitian ini turut mengonfirmasi bahwa habitat Coelacanth di Indonesia membentang luas, mulai dari Biak, Papua, hingga Buol, Sulawesi Tengah. Pulau Talise sendiri dinilai memiliki nilai ekologis yang sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies purba ini.

Rangkaian riset selama lebih dari 20 tahun ini tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru mengenai populasi, habitat, dan reproduksi Coelacanth, tetapi juga menyediakan bukti ilmiah yang menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi berkelanjutan di Indonesia.

Bagikan
Sumber: kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks