SULAWESI UTARA — Wakil Menteri ESDM Yuliot menyatakan perhitungan dilakukan berdasarkan biaya pokok penyediaan (BPP) Pertamina ditambah margin keuntungan. Hasilnya nanti yang bakal jadi dasar evaluasi harga Pertamax. Pemerintah tidak mau terburu-buru memutuskan penyesuaian hanya karena fluktuasi harian.
Harga Minyak Mentah Anjlok Lebih dari Dua Persen
Pada perdagangan Selasa (28/7), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober ambles 2,34 persen ke posisi 83,86 dolar AS per barel. Ini jadi titik terendah sejak 17 Juli. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September juga ikut tertekan, turun 2,28 persen ke 80,73 dolar AS per barel.
Padahal pekan lalu, tepatnya 23 Juli, Brent sempat melesat tembus 100,07 dolar AS per barel. WTI ketika itu naik ke 91,48 dolar AS per barel. Lonjakan dan penurunan ekstrem ini menunjukkan volatilitas pasar energi global yang masih tinggi.
Rata-rata Harga Minyak Jadi Acuan, Bukan Harga Harian
Yuliot menegaskan pemerintah tidak bakal bereaksi terhadap pergerakan harga harian. Yang dipakai adalah rata-rata harga minyak dunia dalam periode tertentu. Pendekatan ini dipilih agar kebijakan harga BBM nonsubsidi lebih stabil dan tidak mudah berubah-ubah.
“Kalau potensi nanti ini harga minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” kata Yuliot, dikutip dari Antara, Rabu (29/7/2026).
Meski begitu, konsumen belum bisa bernapas lega. Keputusan penurunan harga Pertamax masih menunggu hasil final perhitungan keekonomian yang tengah dikerjakan ESDM. Faktor keuntungan Pertamina juga ikut dipertimbangkan.
Gejolak Geopolitik Global Picu Ketidakpastian Pasar
Dinamika geopolitik global disebut menjadi biang kerok fluktuasi harga minyak. Ketidakpastian ini membuat pergerakan pasar energi sulit diprediksi. ESDM pun berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan harga BBM nonsubsidi ke depan.
Bagi pengguna Pertamax, sinyal penurunan harga memang terbuka. Tapi semuanya tergantung tren rata-rata minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan. Pemerintah dan Pertamina masih terus memantau pergerakan pasar sebelum mengambil keputusan final.