Pencarian

Eks-Produser id Software Bongkar Crunch Parah di DOOM: The Dark Ages: 'Pernah Tak Melihat Anak Saya Seharian'

Rabu, 02 September 2026 • 07:34:31 WIB
Eks-Produser id Software Bongkar Crunch Parah di DOOM: The Dark Ages: 'Pernah Tak Melihat Anak Saya Seharian'
Eks-produser id Software mengungkapkan lembur hingga 17 jam per hari selama pengembangan ekspansi DOOM: The Dark Ages.

SULAWESI UTARA — Pengembangan DOOM: The Dark Ages ternyata menyimpan kisah kelam di balik layar, terutama saat tim digeber untuk menyelesaikan expansion Revelations. Andrew Willis, yang baru saja dipecat dari id Software, buka suara soal budaya kerja "crunch" yang menurutnya menjadi yang terburuk sepanjang sejarah seri tersebut.

Dua Bulan Lembur Tanpa Henti dan Waktu Bareng Anak Hilang

Dalam wawancara dengan podcast Kiwi Talkz milik Insider Gaming, Willis membeberkan intensitas kerja gila-gilaan yang dialaminya. "Ada dua bulan di mana saya bekerja setidaknya 12 jam setiap hari. Saya ingat pernah menyentuh angka 17 jam di beberapa hari," ungkapnya.

Konsekuensinya langsung terasa di kehidupan pribadinya. "Ada hari-hari di mana saya sama sekali tidak sempat melihat anak saya seharian penuh. Beberapa hari seperti itu saya korbankan demi menyelesaikan game ini dengan kualitas terbaik," lanjut Willis. Ia menegaskan pengalaman ini bukan hanya dialaminya sendiri—seluruh tim mengalami hal serupa. Bahkan desainer senior yang berpengalaman 20 tahun di Hollywood dan 10 tahun di industri game menyebut ini sebagai crunch terparah yang pernah mereka rasakan.

Tiga Bulan Menyusun Expansion Enam Jam

Yang membuat situasi semakin mencekik, sebagian besar konten Revelations yang durasinya sekitar enam jam itu harus dirampungkan hanya dalam waktu tiga hingga empat bulan. Sebagai perbandingan, game utamanya yang bisa diselesaikan dalam 20 jam butuh waktu lima tahun pengembangan.

Jendela waktu yang sempit itu diperparah oleh feature creep—penambahan elemen baru yang terus mengalir selama proses produksi berlangsung. Willis menegaskan bahwa crunch ini bukan perintah langsung dari manajemen id Software. Namun, beban kerja yang menumpuk—sekitar 60 jam per minggu—dengan tenggat yang dikunci menciptakan "crunch yang hampir dipaksakan secara implisit." Ekspektasi kualitas dari pemain dan standar pribadi para developer membuat mereka tak punya pilihan selain mengorbankan waktu istirahat.

Pemecatan di Hari Terakhir Pengembangan

Kisah pahit ini berakhir dengan ironi. Tim Revelations justru mengetahui kabar pemecatan mereka sehari sebelum expansion tersebut resmi dirilis. Willis adalah salah satu dari 136 karyawan id Software yang terkena dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dari Microsoft, yang memangkas total 1.600 pekerja di divisi gaming—dengan rencana pemotongan 1.600 lagi pada tahun fiskal berikutnya.

"Kamu menghabiskan begitu banyak energi dan jam hidupmu, mengorbankan banyak hal untuk merilis game, lalu mereka memecatmu. Rasanya sangat aneh," ujar Willis merefleksikan pengalamannya.

Tekanan dari Atas atau Keputusan Internal?

Terungkapnya kondisi ini memunculkan pertanyaan besar soal tekanan yang dihadapi id Software pasca-rilis The Dark Ages. Apakah percepatan produksi expansion ini merupakan keputusan internal studio atau dampak desakan dari manajemen Xbox? Data menunjukkan penjualan The Dark Ages lebih rendah dibanding DOOM Eternal (2020), meski angka ini dinilai wajar karena The Dark Ages langsung tersedia di Game Pass.

Di tengah badai PHK, direktur game Hugo Martin sebelumnya sempat menegaskan bahwa kondisi internal studio tetap baik-baik saja. Namun, pengakuan Willis ini membuka tabir realita pahit yang dialami para developer di balik layar—sebuah pengorbanan besar yang berakhir dengan kehilangan pekerjaan.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pcgamer.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks