JAKARTA — Pasar aset kripto global kembali dihadapkan pada tekanan jual setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) untuk Agustus 2026 dirilis jauh di atas ekspektasi. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, mendorong Bitcoin turun ke bawah level psikologis US$ 80.000.
Data terbaru menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 79.578 pada Sabtu (5/9), melemah sekitar 1,9% dalam 24 jam. Sebelumnya, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat menyentuh level tertinggi harian di US$ 82.108 sebelum akhirnya berbalik arah ke titik terendah US$ 78.706.
Data Tenaga Kerja AS yang Kuat Mengubah Ekspektasi Suku Bunga
Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan penambahan 162.000 lapangan kerja nonpertanian pada Agustus 2026, melampaui perkiraan para ekonom. Tingkat pengangguran sendiri bertahan stabil di angka 4,1%.
Angka tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka kembali peluang kenaikan. Kondisi ini membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Arus Modal Institusional Justru Masuk Saat Harga Terkoreksi
Di tengah tekanan makro, minat investor institusional justru menunjukkan sinyal positif. Data internal FLOQ mencatat arus masuk bersih (net inflow) ke spot Bitcoin ETF di AS mencapai sekitar US$ 730,9 juta pada 3 September, menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai fenomena ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara tekanan jangka pendek dan keyakinan jangka panjang pelaku pasar.
"Hal yang menarik adalah ketika harga mengalami volatilitas akibat faktor makro, kita masih melihat arus modal institusional masuk melalui ETF. Ini memberikan gambaran bahwa investor besar belum sepenuhnya meninggalkan Bitcoin," ujar Yudho dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9).
Zona Kritis US$ 78.500 dan Target Pemulihan Berikutnya
Dari sisi teknikal, area US$ 78.500 hingga US$ 79.200 menjadi zona kunci yang harus dipertahankan dalam jangka pendek. Selama Bitcoin bertahan di atas area tersebut, struktur pemulihan dinilai belum sepenuhnya hilang.
Level resistance terdekat berada di US$ 80.600, yang jika ditembus akan membuka jalan menuju US$ 82.000. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan US$ 78.500 hilang secara meyakinkan, ruang koreksi menuju area US$ 76.800 dapat kembali terbuka.
CPI dan Rapat FOMC Jadi Penentu Arah Pasar
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi AS untuk Agustus yang dijadwalkan pada 11 September 2026. Data ini menjadi krusial setelah inflasi Juli tercatat naik 3,4% secara tahunan.
Setelah itu, agenda besar berikutnya adalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Kombinasi kedua agenda tersebut akan menjadi katalis terpenting bagi arah pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan.
"Untuk beberapa hari ke depan, fokusnya bukan hanya apakah Bitcoin berada di US$ 79.000 atau US$ 80.000. Yang lebih penting adalah bagaimana data inflasi mengubah ekspektasi kebijakan The Fed," jelas Yudho.
Ia menambahkan, jika tekanan inflasi melandai dan The Fed memilih mempertahankan suku bunga, ruang pemulihan aset berisiko bisa kembali terbuka. Sebaliknya, inflasi yang masih tinggi berpotensi menjaga volatilitas pasar tetap tinggi dalam waktu dekat.