SULAWESI UTARA — Mantan bek Queens Park Rangers (QPR), Clarke Carlisle, mengungkap bahwa cedera lutut parah pada 2001 menjadi titik awal gangguan kesehatan mental yang hampir merenggut nyawanya. Saat itu ia berusia 21 tahun dan harus absen 22 bulan, tepat ketika kariernya sedang menanjak di sepak bola Inggris.
Carlisle menceritakan pengalaman itu dalam wawancara dengan FourFourTwo. Ia menyebut cedera tersebut terjadi saat ia masih memperkuat QPR di kompetisi kasta ketiga Inggris.
Carlisle mengenang momen nahas itu terjadi dalam sebuah tekel yang tampak biasa. Lawannya saat itu adalah Rufus Brevett.
"Saya masuk ke tekel yang tidak berbahaya dengan Rufus Brevett dan saya merobek ACL, memutar kepala fibula, menggeser saraf dan merobek hamstring dari lutut kanan saya," ujar Carlisle.
Akibatnya, ia harus menepi selama 22 bulan. Carlisle menyebut periode itu sebagai masa yang sangat mengerikan dan menjadi awal dari perjuangan kesehatan mentalnya.
Bagi Carlisle, sepak bola bukan sekadar pekerjaan. Olahraga itu menjadi jalan keluar dari lingkungan tempat tinggalnya dan sarana mewujudkan mimpi.
"Sepak bola sangat berarti bagi saya. Itu membawa saya keluar dari perumahan dewan dan membuat mimpi saya menjadi kenyataan," katanya.
Ketika dokter menyatakan ia mungkin tidak akan bermain lagi, harapan itu runtuh. Carlisle mengaku saat itulah pertama kali ia mencoba mengakhiri hidupnya.
"Dokter memberi tahu saya bahwa saya tidak akan bermain lagi. Itu adalah pertama kalinya saya mencoba mengakhiri hidup saya," ungkap Carlisle.
Ia menuturkan percobaan itu terjadi setelah operasi, saat ia tenggelam dalam alkohol di sebuah flat di Acton. Carlisle selamat setelah ditemukan dan lambungnya dikosongkan di rumah sakit.
Carlisle menyoroti bagaimana percobaan bunuh diri diperlakukan pada 2001. Menurutnya, saat itu peristiwa tersebut tidak dipandang sebagai permohonan bantuan.
"Yang terjadi, pada 2001, itu tidak dilihat sebagai permohonan bantuan. Lebih seperti, 'Ups, kamu lolos dari yang satu itu, Clarke, anak nakal, jangan lakukan lagi!'" kenangnya.
Semua pihak, kata Carlisle, berpura-pura peristiwa itu tidak pernah terjadi. Ia menilai pendekatan tersebut keliru dan mencerminkan minimnya pemahaman soal kesehatan mental saat itu.
Meski menjadi awal dari masalah kesehatan mentalnya, Carlisle menunjukkan determinasi luar biasa. Ia bekerja keras selama dua tahun untuk kembali bugar.
"Di dalam dan di luar lapangan latihan, saya memberikan segalanya selama dua tahun untuk kembali ke kebugaran," ujarnya.
Ia kemudian bermain selama 13 tahun lagi. Carlisle mencapai Premier League bersama Watford, lalu kembali ke kasta teratas bersama Burnley.
Bersama Watford, ia membantu klub itu promosi ke Premier League. Namun ia melewatkan tujuh bulan pertama musim berikutnya dan sempat merasa kehilangan kesempatan.
Carlisle akhirnya mencatat debut Premier League melawan Portsmouth di Vicarage Road. Ia tampil impresif di laga itu, tetapi Watford sudah dipastikan terdegradasi.
Carlisle menegaskan bahwa saat melewati semua cedera itu, ia tidak menyadari sedang mengalami masalah kesehatan mental. Karena itu, tidak ada kesadaran bahwa ia sedang mengatasi sesuatu.
Kini Carlisle dikenal sebagai advokat kesehatan mental. Kisahnya menjadi pengingat bahwa tekanan di dunia olahraga profesional bisa berdampak jauh melampaui lapangan.