MANADO — Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulawesi Utara Ulyas Taha menegaskan transformasi pendidikan keagamaan menjadi bagian penting yang sedang dikerjakan institusinya. Lembaga pendidikan keagamaan, menurut dia, tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional dalam menghadapi teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat.
Pernyataan itu disampaikan Ulyas di Manado, usai menghadiri sebuah seminar internasional. Seminar bertajuk "Transformasi Pendidikan Keagamaan Berdampak: Adaptif, Inovatif dan Unggul di Era Digital" itu digelar UIN Alauddin Makassar bersama Adjunct Professor UMWALES Malaysia.
"Saat ini menjadi bagian penting bagi Kemenag Sulut dalam penguatan transformasi pendidikan keagamaan," kata Ulyas Taha.
Perkembangan teknologi digital dinilai menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi dan berinovasi. Ulyas menekankan proses pembelajaran tetap harus memastikan lahirnya sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, serta memiliki landasan nilai-nilai keagamaan yang kokoh.
Kemenag Sulut, lanjutnya, perlu memperkuat jejaring akademik dan kelembagaan. Langkah itu sekaligus ditujukan mendorong lahirnya gagasan baru mengenai pendidikan keagamaan yang adaptif terhadap perubahan serta inovatif dalam metode pembelajarannya.
Penguatan tersebut diyakini krusial agar pendidikan keagamaan mampu mencetak SDM yang dapat menjawab berbagai tantangan di era digital.
Kegiatan di Manado itu menjadi ruang akademik yang mempertemukan berbagai perspektif pendidikan, keagamaan, dan pemikiran Islam dalam menyikapi perubahan sosial serta kemajuan teknologi. Para akademisi dan pemateri dari dalam maupun luar negeri hadir dalam seminar tersebut.
Rektor UIN Alauddin Makassar Hamdan Juhannis turut berbagi pengalaman dan pemikiran yang tertuang dalam bukunya berjudul "Melawan Takdir". Buku itu merefleksikan perjalanan intelektual dan pengalaman hidup yang mengajak peserta melihat bahwa pendidikan dan perjuangan manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga keberanian menghadapi tantangan dan keterbatasan.
Salah satu sesi utama seminar membahas topik "Maqasid Based vs Syariah Based". Diskusi itu mengajak peserta memahami perbedaan dan hubungan antara pendekatan berbasis maqasid dan pendekatan berbasis syariah dalam merespons persoalan kontemporer.
Pendekatan maqasid al-syariah dinilai relevan menghadapi perubahan zaman. Pendekatan ini menekankan pemahaman terhadap tujuan, kemaslahatan, dan nilai-nilai substantif yang hendak diwujudkan syariat, bukan sekadar aturan formalnya.
Ulyas menambahkan transformasi pendidikan keagamaan bukan hanya perhatian kalangan akademisi. Hal ini juga menjadi perhatian serius bagi para pengelola pendidikan dan aparatur pemerintah yang setiap hari berhadapan langsung dengan dinamika pelayanan keagamaan di masyarakat.